Jawaban basa-basi dari bertanya basa-basi

Bertanya, bersamaan dengan mendengarkan adalah paket penting untuk membangun hubungan, saling pengertian dan kerjasama. Syaratnya, bertanya dilakukan untuk harus satu paket dengan mendengarkan. Misalnya, pagi-pagi berjumpa tetangga, “Eh, sudah sembuh, bang Idrus?” Lalu, tetangga menceritakan kondisinya saat ini dan perjuangan sembuhnya dua minggu terakhir. Kita menyimak cerita tetangga dengan melempar pertanyaan-pertanyaan pendek dari pernyataan-pernyataan sebelumnya … Baca Selengkapnya

Komunikasi dengan orang yang menolak swab

Sesi Belajar Komunikasi Tatap Muka untuk Cegah COVID-19 bersama rekan-rekan Puskesmas di Jakarta Utara dan CISDI lebih banyak membahas kasus-kasus ketimbang teori. Salah satu yang dibahas adalah mengajak anggota keluarga dari orang yang terkonfirmasi COVID-19 untuk tes swab. Khususnya bila mereka merasa sehat-sehat saja. Sejumlah rekan nakes mengalami kesulitan mengajak warga untuk tes swab. Mereka … Baca Selengkapnya

Agar ketakutan tidak sia-sia

Tadi pagi seorang kawan cerita tentang ketakutan sekelompok warga yang berlebihan. Mereka menutup akses jalan tetangga desa karena ada satu RT yang 18 orang warganya terpapar dari klaster pasar ikan. Sehari sebelumnya, kawan-kawan dari daerah lain bercerita bagaimana warga sangat takut dikucilkan atau diusir kalau terkena corona. Janganpun mengedukasi warga tentang corona, hanya sekedar menyebut … Baca Selengkapnya

Pesan berbasis kelas (ancaman kemiskinan)

Orang miskin dilarang sakit. Pesan itu kembali muncul dalam pikiran beberapa minggu ini. Pertama mendengar pesan itu di awal 2000an ketika tempat kerja saya (Koalisi untuk Indonesia Sehat) bermitra dengan teman-teman INSIST, yang banyak melakukan pendidikan popular dan kerja advokasi. Saya pertama mendengar pesan itu dari mereka. Pesan berbasis kelas. Berbeda dengan orang kaya, orang … Baca Selengkapnya

Main bola lawan corona

Membayangkan skema main bola lawan virus corona. Edukator di semua lini bersama-sama mereka yang mengintervensi perubahan perilaku (law enforcer dan engineer). Sifatnya ofensif. Bukan jagain wilayah (zona marking) tapi total football. Edukasi semua orang yang ditemui. Keluar rumah, ada tukang bakso ga pakai masker, edukasi! Ibu bakul sayur tidak pakai masker, bilangin. Pemuda-pemua ngumpul, nasehati! … Baca Selengkapnya

Saat rekan-rekan menjauh gara-gara COVID-19

Perasaan baru kali ini saya minta moderator memastikan apakah benar pertanyaan yang disampaikan? Sampai 2 kali pula. Ceritanya di pelatihan daring tentang komunikasi antarpribadi bagi rumah sakit – rumah sakit yang menangani COVID-19 ada seorang peserta japri moderator. Tidak di chat atau langsung ngomong. Wanti-wanti pula agar modertor tidak membuka namanya. Pertanyaannya apa yang harus … Baca Selengkapnya

Rasa bersalah dan malu untuk edukasi masker

Robert Levine (2003) bilang guilt and shame are more powerful than rules and laws atau rasa salah dan malu lebih kuat dibandingkan aturan dan hukum untuk merubah perilaku. Sumber kekuatannya juga berbeda. Rasa salah dan malu mengatur perilaku seseorang seperti kehadiran polisi dikepala. Kebayang terus. Seperti ada yang jagain. Ini adalah normal sosial, aturan tidak … Baca Selengkapnya

Jangan nasihati kalau tidak paham masalah komunikasinya

Melihat perilaku yang keliru kita kadang terburu nafsu ingin memberi nasihat. Keputusan yang berbahaya. Jangan nasihati orang kalau Anda belum memahami masalah komunikasinya. Bukan menyelesaikan masalah tapi malah bisa buat situasi tambah runyam. Contohnya begini. Semisal anak Anda pulang sekolah dengan wajah acak-acakan, pakaian kotor, dan sedikit robek. Cepat Anda tahu dia habis berkelahi. Perilaku … Baca Selengkapnya

Kelompok Orang Tidak Pakai Masker dan Opsi Intervensi

Sebelum berkomunikasi tentang masker kita perlu tahu siapa yang diajak bicara. Bagaimana pengetahuan atau sikap mereka? Supaya nanti komunikasinya nyambung dan pesan bisa diterima. Cerita-cerita relawan dan tenaga kesehatan ditambah ngobrol dengan sejumlah orang, sementara ini, didapat 3 kelompok dengan kadar masalah komunikasi (sebab tidak pakai masker) yang berbeda. 1. Kadar ringan. Mereka yang belum … Baca Selengkapnya

Mengajak pakai masker dengan cinta

Acapkali kita mengajak orang hanya dengan alasan yang menurut kita benar atau secara ilmiah benar. “Ibu, bapak, pakai masker ya karena masker bisa mengurangi penyebaran virus corona. Masker melindungi orang lain dan diri sendiri dari penularan virus corona” Itu baru satu aspek. Disamping benar, pesan yang disampaikan pun perlu memotivasi. Dan yang memotivasi tidak selalu … Baca Selengkapnya

Mengingatkan secara apresiatif

Apa yang Anda sampaikan pada orang yang pakai masker tanpa menutup hidung? “Pak, salah itu pakai maskernya!”“Wah, cara pakainya belum benar. Bapak bisa kena virus corona!” Atau bagaimana? Ada beragam sudut pandang. Bisa dari kekurangan atau sebagai kelebihan. Kelebihan? Nah, mana yang lebih memotivasi? Bandingkan dua cara guru menanggapi hasil tes siswa sbb. Dialog #1Guru … Baca Selengkapnya

Hargai baru ajak jaga jarak

Seorang relawan pelajar DKI Jakarta yang aktif ikut pelatihan KPP KAP Cegah COVID-19 berbagi cerita tugas ke-4. Jumat 14 agustus jam 09.00 saya ke sekolah untuk cap 3 jari. Setelah ngobrol dengan teman, saya berbaris dan barisannya pun dempet-dempetan tidak ada jarak lalu saya samperin guru dan menyapa. Saya : Assalamualaikum, IbuBu guru : Wassalamualaikum, … Baca Selengkapnya

Jaka sembung bawa golok & sekarang kampanye masker?

Jangan-jangan kampanye masker saat ini jaka sembung bawa golok alias ga nyambung nih, mpok. Kesan ini mulai didapat beberapa bulan lalu ketika sejumlah relawan dan nakes melaporkan “masalah komunikasi” dari orang yang tidak pakai masker seperti “Orang merasa kondisi sudah aman”, “Corona sudah tidak ada”, “Tidak percaya ada corona”, “Corona hanya di kota saja” sampai … Baca Selengkapnya

Bertanya Untuk Mendapat Jawaban Jujur Pasien

Gara-gara pasien tidak jujur menceritakan riyawat perjalanan atau kontak, tenaga-tenaga kesehatan banyak tertular. Berita semacam ini bukan sekali dua kali kita dengar. Awal mulanya, pasien yang tidak jujur. Dalam perspektif komunikasi, jawaban yang disampaikan pasien adalah hasil interaksi dengan tenaga kesehatan. Jadi, pertanyaan yang dilemparkan tenaga kesehatan dan cara-cara bertanya ikut menentukan jawaban dari pasien. … Baca Selengkapnya