Pertalian untuk memperlancar komunikasi

“Mas, aslinya dari mana?”

“Aslinya orang mana?”


Ini pertanyaan-pertanyaan yang “orang dulu” suka tanyakan saat jumpa orang baru.

Buat generasi belakangan, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin bisa membuat kesal karena dinilai melewati batas privasi. Tapi “orang dulu” bertanya seperti itu sebetulnya bukan untuk kepoin orang, tetapi justru ingin mencari pertalian atau simpul-simpul yang bisa memperlancar interaksi.

Yang dimaksud pertalian di sini bisa terkait dengan asal usul (misalnya berasal dari daerah yang sama), kegiatan di tempat atau dengan orang yang sama (satu sekolah tapi beda angkatan, diajar ustad yang sama tapi mejelis berbeda), atau bisa juga pertalian interaksi atau bahkan darah (teman kakaknya, nenek kakeknya sepupuan dll.).

Dalam komunikasi, pertalian atau simpul-simpul memiliki posisi penting karena bisa memperlancar percakapan atau bahkan membangun rasa percaya. “Wah, ternyata kita satu sekolah, ya.”; “Oh, orang Ciwaringin? Sama dengan suami saya!”

Begitu menemukan pertalian, komunikasi jadi lebih lancar. Interaksi lebih mudah. Seperti terbangun jalan tol.

Ada pesan penting dari praktik komunikasi “orang dulu”, khususnya bagi komunikator perubahan perilaku. Sewaktu membangun percakapan, coba jajaki kemungkinan pertalian atau simpul-simpul dengan orang yang diedukasi. Ngobrol dan tanya-tanya secara halus, seperti sepintas lalu. Tanya tentang asal kelahiran, kegiatan, hobi atau lain-lainnya. Kalau ketemu suatu pertalian, ungkapkan dengan gembira.

Apalagi kalau topik edukasinya bisa buat kesel orang alias orang sudah punya sikap negatif, pertalian bisa membantu meredakan dan mengantar pesan agar diterima dengan baik.

Semisal ketemu pedagang yang tidak pakai masker, jangan langsung edukasi tapi tanya-tanya dulu. Ngobrol-ngobrol dulu. Siapa tahu ada pertalian. “Oh, bapak dari Bogor? Sama dong kita. Saya Bogornya di…..”

Saat ketemu pertalian, Si Bapak Pedagang yang tadinya kesal dengan isu corona (karena merasa telah mengganggu perikehidupannya) akan lebih rileks menerima pesan kita. Tidak reaktif apalagi emosional.

Jadi, jangan melulu fokus pada pesan kunci yang menjadi agenda komunikator. Terlalu fokus malah tidak akan bisa membuka “pagar” orang. Kalau pagar belum terbuka, kan percuma bicara panjang lebar.

Tinggalkan komentar