Siapa bilang ga boleh edukasi dengan marah-marah?

“Saya mau marahin suami yang kumpul-kumpul sama kawan-kawannya. Tapi ga boleh ya? Ga boleh konfrontatif. Harus mendengarkan, ya?” Seorang relawan bertanya.

Hmm, kayanya salah mengartikan pelajaran komunikasi perubahan perilaku.

Strategi nonkonfrontatif, yang cenderung mendengarkan, ditujukan untuk 1) membuka “pagar” orang sehingga dia mau menerima pesan kita, 2) mempertahankan hubungan.

Setiap orang memiliki pagar, yang menentukan apakah dia mau menerima pesan yang kita sampaikan atau hanya memasukkannya ke telinga kanan lalu mengeluarkannya ke telinga kiri.

Orang yang tidak kenal sama kita pasti memasang pagar. Siapa lu?

Suami yang sedang kesel atau marah otomatis menaikkan pagarnya. Dia tidak mau mendengarkan siapapun dan justru menuntut kita yang mendengarkan. Kalau kita marahin, hasilnya pertengkaran hebat. Bisa bubar.

Kedua adalah untuk mempertahankan hubungan. Kalau belum berhasil pada kesempatan pertama,  maka komunikasi tetap bisa dilakukan dikesempatan berikutnya.

Ingat cerita relawan Muslimat di Jakarta Utara yang pernah saya tuliskan? Dia ngajak ngobrol pedagang-pedagang di perempatan dan pas menyinggung masker, para pedagang berujar, “Ibu ini agamanya apa sih sebetulnya?”

Kalau mau dibawa emosi, pertengkaran yang muncul. Tapi dia bawa bercanda. Saat itu tidak berhasil merubah perilaku. Tidak apa-apa. Pamitnya baik-baik sehingga besok-besok kan masih mengedukasi lagi.

Balik ke pertanyaan relawan di atas. Bolehkah marahin suaminya yang kumpul-kumpul sama kawan-kawannya?

Boleh, dong. Apalagi kalau dia lagi santai. Tidak lagi marah atau kesal.

Selain itu, kalau hubungan aman-aman saja, tidak risiko rusak kok.

Jadi ga apa-apa mengedukasi dengan martah-marah pada orang yang santai dan dekat hubungannya (pasangan, anak, saudara). Tumpahkan saja kemarahannya.

“Kok, tolol!! Kamu ga baca berita virus corona masih ada?! Kok, sembrono sekali masih kumpul-kumpul!!”

“Mau bunuh aku??!! Kamu kan tahu aku darah tinggi! Mau bunuh aku?!!?”

“Dzolim kamu! Dzolim se-dzolim-dzolimnya. Masih kumpul-kumpul padahal tahu orang di rumah punya penyakit. Dzoliiim!”

Kalau perlu, jangan kasih masuk rumah. Atau suruh tidur di kamar lain. Asingkan beberapa saat. Ga apa-apa kok. Saya juga pernah mengalami. Gara-gara buat video edukasi komunikasi buat KPCPEN. Tidak pakai masker karena dipikir aman karena ruangannya terbuka alias tidak berdinding. Peserta/ penonton pun jaraknya jauh. Tapi Winnie ga terima. Pulang jalan kaki karena ditinggal (dan ga berani naik bis kota). Beberapa malam tidur sendirian. He he he. Kapok.

Tinggalkan Balasan