Kalibrasi: cara tahu orang menerima atau tidak pesan kita

Saat menyampaikan saran ada baiknya kita juga sambil menge-chek apakah orang bisa menerima pesan kita atau tidak.

Bagaimana caranya agar tahu? Atau paling tidak mendapat indikasi, sehingga kita bisa memperbaiki cara berkomunikasi.

Apa tanya: “Apakah Abang terima saran saya agar pakai masker? Terima atau tidak?”

Bertanya langsung secara verbal memang bisa mendatangkan jawaban eksplisit, ya atau tidak. Atau diam, ragu-ragu dll. Tapi tanggapan-tanggapan hasil pertanyaan verbal rawan bias. Kalau yang tanya polisi, seorang bisa jawab “menerima” karena takut mendapat hukuman. Padahal hatinya mengatakan hal berbeda.

Kalau yang memberi saran adalah relawan remaja dan yang menerima adalah seorang pemuda, jawaban “Ya, saya terima deh” mungkin bisa berarti, “Sudahlah, jangan lama-lama.”

Intinya jawaban verbal rawan bias.

Cara lain yang lebih aman adalah secara nonverbal, yang dinamakan sebagai kalibrasi.

Kalibrasi itu penyelarasan nonverbal antara komunikator dan komunikan yang mengindikasikan orang menaruh perhatian pada pembicaraan atau bahkan menunjukkan penerimaan atau persetujuan atas pesan-pesan yang disampaikan.

Secara teori mudah. Secara praktik nyata, lain lagi.

Sewaktu kita menyampaikan pesan/ nasihat/ saran, coba berikan pula pesan-pesan nonverbal, semisal menganggukkan kepala. Kalau lawan bicara mengikuti atau menyelaraskan nonverbalnya (ikut menganggukkan kepala), maka itu adalah indikasi bahwa yang bersangkutan memperhatikan atau bahkan menerima pesan kita.

Sebaliknya, bila kita menganggukkan kepala tapi yang bersangkutan hanya bengong atau malah mengarahkan matanya ke lantai, kemungkinan besar dia tidak bisa menerima pesan kita.

Kalibrasi harus dilakukan secara halus dan senatural mungkin. Tidak bisa kita mengangguk-angguk sambil mengatakan: “Begitu, ya!” dan berharap lawan bicara mengangguk pula.

Itu namanya koersi nonverbal atau semacam pemaksaan simbolik.

Cara komunikasi untuk membuat orang terbuka dan menerima harus dilakukan secara halus. Tidak ada koersi. Hanya kesadaran pribadi.

Sebagai catatan akhir: dalam berkomunikasi kita tidak boleh terbebani hasilnya. Perkara orang menerima atau menolak, tidak perlu dipikirkan. Kita fokus berkomunikasi dengan lebih kreatif saja. Mendapatkan indikasi apakah orang menerima atau tidak pesan adalah untuk perbaikan cara komunikasi kita, bukan untuk disesali atau menjadi beban.

Tinggalkan Balasan