Cara menyampaikan pesan itu penting

Dua orang nakes dari Puskesmas berbeda menceritakan pengalaman praktik mengajak orang pakai masker.

“Di pelataran Puskesmas saya lihat nenek penjual pecel tidak pakai masker. Saya dekati. Lalu, saya nasehati dengan halus. Pakai masker ya, Nek. Supaya ga kena corona. Bahaya kalau kena. Dianya ngangguk-ngangguk. Saya kira setuju. Eh, besoknya tidak muncul. Saya tanya-tanya pedagang lain, katanya dia tidak mau jualan karena harus pakai masker. Dia bilang, sesak rasanya kalau pakai masker.”

Cerita nakes bermula saat waktu istirahat, jalan ke warung mau beli sesuatu. Ada Si Kakek penjual kerupuk tanpa masker. Dia kemudian mendekati.

“Kakek bagaimana udah laku banyak?”

“Belum nih, Bu Bidan. Gara-gara pandemi, susah jualan.”

“Aduh, iya ini gara-gara pandemi. Puskesmas aja jadi sepi ini.”

Saat bersamaan bu bidan melihat kawan-kawannya. “Kawan-kawan, sini! Ayo, ke sini.”

“Ada apa Bidan Ros?”

“Eh, ini kerupuk-kerupuk. Enak deh. Yang biasa kita makan. Bisa nemenin gado-gado mie ayam dan semuanya deh. Ayo pada beli dong!”

Kawan-kawannya kemudian membeli. Tidak sampai ludes dagangannya. Tapi lumayan deh.

Melihat ini si Kakek girang. “Terimakasih ya bu Bidan. Aduh jadi ngerepotin.”

“Ah, biasa aja dah. Eh ngomong-ngomong, mana itu masker kek?”

“Oh, masker? Saya ga bawa, bu Bidan.”

“Oh, ga bawa? Bentar saya ambilkan.”

Lalu bu bidan ambil masker kain buat si Kakek lalu memintanya selalu pakai. “Supaya ga kena corona. Bahaya, Kek.”

Besoknya dijumpai Si Kakek sedang melayani pembeli dan pakai masker.

Pesan yang disampaikan oleh kedua nakes itu sama. Pakai masker dan kenapa perlu pakai masker (supaya tidak kena corona). Tapi hasilnya berbeda.

Pesan penting tapi cara menyampaikan pesan tidak kalah penting. Nakes pertama mencoba langsung. Nakes kedua mencoba cari tahu apa yang dikhawatirkan si kakek. Bahkan melakukan pertolongan cepat bermakna. Hasilnya, pagar lebih terbuka. Pesan pun masuk lebih mudah.

Tinggalkan Balasan