Jangan menyia-nyiakan orang bertanya

Beberapa waktu lalu ayah saya memeriksakan diri ke spesialis kulit. Sudah disarankan periksanya nanti-nanti. Setelah pandemi kelar. Tapi, katanya, gatal sungguh tidak nahan. Ya, apa boleh buat. Saya hanya bisa wanti-wanti jaga jarak di ruang tunggu dan pakai masker yang bener.

Selang beberapa hari kemudian saya kontak,

“Bagaimana kata dokternya, sakit apa?”

“Entahlah. Tapi obatnya manjur. Mulai tidak gatal ini.”

“Alhamdulillah, kalau begitu. Tapi dokternya bilang sakit kulit apa?”

“Itulah. Tak mau jelaskan dia.”

“Sudah tanya?”

“Dua kali. Malah nyuruh ngurus admin.”

“Mungkin kurang keras ngomongnya”

“Ga mungkin. Saya aja bisa dengar.”

Satu telinga ayah ada masalah. Jadi kalau dengar jelas, pasti cukup keras suaranya.

Bukan sekali dua kali saya mendengar cerita semacam ini. Tidak menjawab saat ditanya. Atau menjawab dengan ogah-ogahan.

Padahal dalam komunikasi perubahan perilaku, orang bertanya merupakan kesempatan emas untuk memasukkan pesan-pesan kunci dalam benak dan rasa si penanya. Jadi, kalau sampai seseorang bertanya,

“Apa betul masker bisa mencegah kita dari COVID-19?”

maka, itu adalah tanda orang mulai membuka diri. Membuka pagarnya untuk menerima pesan-pesan komunikator. Bahkan ketika disampaikan dengan sinispun sekalipun, tetap, artinya ada peluang untuk merubah perilaku.

Menghadapi orang bertanya, komunikator tinggal menerapkan sejumlah teknik yang lebih mudah ketimbang menghadapi orang yang diam atau marah.

Jadi, petugas lapangan yang paham proses perubahan perilaku pasti rindu mendapat pertanyaan dari warga. Bahkan, berusaha keras dengan menerapkan berbagai teknik agar warga mau bertanya.

Bagi mereka ini adalah peluang berbuat baik bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan