Komunikasi kala “ada maunya” saja

Baru sesi pengantar, seorang peserta mengacungkan tangan, “Mas, sebetulnya untuk apa kita belajar komunikasi tatap muka macam begini? Kayanya mas belum paham masalahnya nih. Jangankan berkomunikasi, baru saja kami menginjakkan kaki di di desa, ibu-ibu sudah lari lihat kami. Masuk rumah. Tutup pintu. Mau komunikasi tatap muka bagaimana?”

Sejenak tertegun lalu saya langsung sambut. “Wah, betul juga pendapat pak Syam. Kalau orangnya tidak ada, mana bisa berkomunikasi antarpribadi?”

Ini cerita di pelatihan komunikasi antarpribadi untuk juru imunisasi di Aceh sebelum pandemi. Juru imunisasi mengalami kesulitan mengajak orang tua untuk memberi anaknya imunisasi. Sebagian orang tua memandang satu vaksin yang ditawarkan itu haram. Sebagian lain khawatir anaknya malah sakit. Sebagian lain percaya anaknya bisa tetap sehat tanpa diimunisasi.

Saking tidak maunya. Didatangi pun kabur.

Untuk merespon, saya ajak pak Syam dan peserta lain berkhayal. “Seandainya. Seandainya kita kenal baik dengan ibu-ibu di desa itu. Kenal nama-namanya. Cukup akrab juga. Kalau bertemu di puskesmas, disapa. Ngobrol singkat. Kita suka mampir ke acara posyandu. Lihat-lihat dan ngobrol-ngobrol saja. Kalau ketemu di pasar, beri salam. Kalau ada sunatan, datang. Kalau ada kedukaan, juga datang. Kira-kira, bila kondisinya seperti itu, apakah ibu-ibu akan kabur melihat kita yang datang membawa perlengkapan vaksin?”

Pak Syam tak pikir panjang, “Wah, kayanya tak akan kabur ibu-ibu itu!”

Kemungkinan memang tidak kabur. Perkara mau atau tidak mau anaknya diimunisasi adalah hal lain. Maksud saya, belum tentu orang menerima dengan tangan terbuka. Tapi, dengan tidak kabur, ada kesempatan bicara sehingga teknik-teknik komunikasi tatap muka bisa diaplikasikan.

Banyak persoalan perilaku tidak selesai karena intervensinya mengandalkan komunikasi yang instrumentalis alias berkomunikasi kala “ada maunya saja”. Dengan kata lain, komunikasi karena ada yang ingin diselesaikan atau dicapai (sesuai penugasan).

Padahal komunikasi bukan sekedar kala ada maunya. Bahkan, banyak orang sebetulnya merasa enek (bukan enak) menghadapi orang yang berkomunikasi hanya saat ada maunya saja.

Komunikasi antarmanusia itu mesti relasional. Saling mengenal. Membangun keakraban.

Jadi, mereka yang kerjaannya berhubungan dengan perubahan perilaku harus meluangkan waktu membangun hubungan baik dengan warga atau kliennya. Berinteraksi di luar urusan pekerjaan.

Bukan menghabiskan waktu kok. Justru komunikasi relasional akan banyak membantu komunikasi “ada maunya”. Seperti pelajaran kehidupan sehari-hari, hubungan yang baik akan banyak membantu urusan-urusan kita. Bahkan tanpa diminta pun, kalau hubungan bagus, orang akan membantu.  Pernah kan kita mengalaminya?

Tinggalkan Balasan