Berkomunikasi dengan Perumpamaan

Perumpamaan perlu dibuat karena ada kesenjangan kemampuan berpikir atau mencerna pesan. Tanpa perumpamaan, pihak yang “lebih rendah” sulit memahami pesan yang disampaikan pihak lain.

Karena itu , ketika berkomunikasi dengan manusia Tuhan membuat banyak perumpamaan. Semisal, dijelaskan bahwa manusia itu dibuat dari saripati tanah. Kita tahu dan pernah lihat itu tanah, sehingga lebih mudah memahami pesan itu. Kalau semisal dijelaskan secara rinci bagaimana manusia dibuat, belum tentu otak kita bisa nyandak.

Karena itu, ketika ingin menyampaikan pesan-pesan pada orang awam, orang-orang yang ahli di bidangnya perlu membuat perumpamaan-perumpamaan. Khususnya bila yang ingin disampaikan adalah konsep-konsep yang abstrak.

Ahli-ahli dapat saling berkomunikasi dengan konsep-konsep abstrak karena telah belajar bertahun-tahun dengan bahasa dan logika yang sama. Mereka juga menguasai serangkaian konsep pendukung. Mereka telah melakukan penelitian empirik terkait dengan konsep-konsep itu.

Dipihak lain, orang awam, tidak. Orang awam akan sulit memahami konsep abstrak.

Dalam komunikasi perubahan perilaku pemahaman menjadi penting. Bila paham saja tidak, bagaimana mungkin bisa berubah perilaku?

Dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan seorang ahli gizi bisa menjelaskan kelompok gizi menjadi sebagai berikut:

Bayangkan Anda punya mobil yang mewah. Supaya mobil itu bisa jalan, maka butuh bensin. Kalau tidak ada bensinnya, sebagus apapun mobil itu, sehebat apapun supirnya, tetap tidak bisa jalan. Bensin adalah sumber tenaga yang menggerakkan mobil. Untuk manusia, sumber tenaganya adalah makanan yang mengandung banyak karbohidrat seperti nasi, roti, tepung, sagu, jagung atau lainnya.

Nah sekarang, bayangkan mobil mewah yang tangki-nya full dengan bensin. Siap meluncur cepat dan jauh. Agar selamat dan nyaman, harus ada yang nyupiri dengan aman dan lihai. Kalau ga ada supirnya, sebagus apapun mobilnya, tetap ga bisa jalan. Kalau ada supir, tapi ngantukan, bisa berbahaya. Bisa kecelakaan.Yang nyupiri itu yang mengatur jalannya mobil. Tubuh manusia pun perlu ada yang ngatur. Perlu zat pengatur. Sumbernya dari makanan yang kaya vitamin dan mineral seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. Kalau kurang makan buah-buahan dan sayur-sayuran, akan kacau tubuh kita. Muncul penyakit kanker, jantung, stroke, diabetes dan penyakit lainnya.

Nah, sekarang kita punya mobil mewah dan supir yang lihai. Mobil itu sudah dibawa kemana-mana. Lama-kelamaan ada bagian yang mulai aus. Bannya mulai habis. Remnya mulai tipis. Radiator ada tetesan. Artinya, sudah waktu ganti komponen. Kalau tidak ganti komponen, nanti rusak mobilnya.

Tubuh manusia pun demikian. Sel-sel tubuh perlu diganti dengan yang baru. Kalau masih kecil, selnya bukan hanya perlu diperbaharui, tapi juga perlu ditumpuk supaya jadi lebih besar atau panjang. Untuk itu, kita perlu makan makanan yang kaya zat pertumbuhan atau protein, seperti telur, ikan, ayam, daging sapi, tahu, tempe dan lain sebagainya. Kalau kurang makan protein, kasihan tubuh kita. Seperti mobil, kalau sudah aus onderdilnya dan tidak diganti-ganti, lama-lama nanti rusak beneran.

Menyampaikan dengan perumpamaan mengandung risiko, karena perumpamaan tentu tidak bisa menyampaikan pesan seakurat konsep-konsep. Selalu ada reduksi.

Tapi tidak apa-apa. Meski tidak akurat 100%, ada pelajaran yang bisa ditangkap orang awam. Ini jauh lebih baik dari pada tidak menangkap pelajaran sama sekali.

Satu lagi, kelebihan penyampaian dengan perumpamaan adalah lebih diingat. Di rumah nanti masih diingkat. Berbulan atau bertahun-tahun ke depan masih diingat.

Tinggalkan Balasan