Komunikasi sebagai syarat perlu bukan syarat cukup

Sampaikanlah dariku walau satu ayat.

Hadist populer tentang komunikasi itu suka saya singgung dalam pelatihan komunikasi antarpribadi, termasuk urusan COVID-19. Tujuannya mendorong relawan berkomunikasi dengan sikap mental tertentu.

Banyak relawan bertanya-tanya bahkan sangsi, apakah komunikasi yang dilakukan dapat merubah perilaku?

Kalau merujuk pada hadist di atas, memangnya menyampaikan satu ayat bisa merubah perilaku?

Kalau tidak bisa, kenapa kita diminta melakukan?

Belajar dari senior (alhamrhum) Dedi N Hidayat saya mendapatkan konsep syarat perlu (necessary condition) dan syarat cukup (sufficient condition) dalam intervensi perubahan perilaku. Syarat perlu artinya faktor itu harus ada tapi tidak cukup hanya dengan faktor itu saja perubahan perilaku terjadi. Sementara, syarat cukup artinya hanya dengan faktor itu saja perubahan perilaku dimungkinkan.

Komunikasi pada umumnya adalah syarat perlu bukan syarat cukup. Artinya, kehadirannya harus ada dalam upaya perubahan perilaku, tetapi tidak bisa hanya dia sendirian. Ada banyak faktor lain, sebagian tidak teridentifikasi, yang terlibat dalam proses perubahan perilaku.

Jadi, relawan tidak boleh minder tapi tidak juga jumawa. Sikap minder tidak bagus karena membuat aliran kata-kata macet. Kreativitas tersendat. Kelihaian mengelola percakapan hilang. Kata orang, otak jadi blank.

Sikap jumawa juga sama bahayanya karena menghambat kolaborasi dengan pihak lain. Sikap jumawa membuat orang cenderung dominan bahkan menindas dalam percakapan. Padahal, relawan perlu banyak mendengarkan dan belajar dari masyarakat.

Singkatnya, relawan mesti paham, “Peran Anda itu penting. Harus ada. Perubahan perilaku tidak akan terjadi tanpa kehadiran Anda. Tapi bukan Anda saja yang menyebabkan perubahan perilaku. Ada faktor lain pula.”

Kita tidak tahu secara persis seberapa penting peran Anda bagi seseorang. Siapa tahu dia sedang menimbang-nimbang mau berkumpul sama kawan-kawannya di warung kopi lalu Anda datang mengingatkan bahaya penyebaran lewat udara di ruang tertutup dan kemudian dia membatalkan.

Siapa tahu dia mulai bosan memakai masker lalu ketemu Anda di jalanan yang mengangkat jempol: “Mantap maskernya, bang! Terimakasih ya.” Dan kemudian semangatnya tumbuh kembali.

Jadi, walau singkat sampaikan saja kepada orang-orang pesan-pesan yang memotivasi orang untuk merubah atau mempertahankan perilaku cegah COVID-19.

Tinggalkan Balasan