Edukator Jalanan

Relawan edukasi COVID-19 lebih sering melakukan aksinya di jalanan, tempat warga lalu lalang atau berkumpul-kumpul. Jalanan besar, kecil atau lorong-lorong di perkampungan atau pasar. Edukator tidak diam di tempat. Mereka bergerak, berpindah, berjalan kaki.

Makanya disebut edukator jalanan. Beda dengan di jaman normal baheula di mana edukasi dilakukan di ruangan-ruangan. Balai desa atau bisa juga di hotel berbintang. Dingin dan lengkap dengan makan siang. Orang bilang, paling “apes” di Posyandu tapi itu pun masih oke bangetlah karena pasti ada kudapan dan bisa asyik selonjoran.

Edukator jalanan tidak mendapati kemewahan itu.

Orang yang ditemui pun bukan berdasarkan undangan. Entah siapa, tidak bisa diperkirakan. Ada yang menerima dengan terbuka. Ada yang malu-malu. Namun ada juga yang emosional. Cemberut, buang muka atau malah menghardik.

Edukator jalanan tidak pernah tahu. Tapi harus menikmati.

Di mana asyiknya jadi edukator jalanan? Ini urusan mental. Edukator jalanan mesti menikmati upaya komunikasinya. Fokus di situ saja. Berubah atau tidak orang, bukan urusannya. Bukan dalam kendalinya.

Abaikan bila orang buang muka, cemberut, menghardik atau marah-marah. Reframe mata sehingga mereka tampak tersenyum atau wajah-wajah lain yang membuat relawan bisa tersenyum.

Syukuri bila orang tersenyum, angkat jempol, mengangguk atau apalagi kalau bilang terimakasih. Jadikan itu energi untuk interaksi berikutnya.

Dan interaksi dengan warga tidaklah dipandang kecuali sebagai upaya mencari kawan baru. Interaksi harus dibuat untuk menambah keakraban. Tadinya tidak kenal, jadi kenal muka. Tadinya kenal muka, jadi kenal nama. Tadinya sekedar tahu nama, jadi tahu lebih banyak. Edukasi jalanan pun jadi menyenangkan.

Semangat, kawan-kawan relawan!

Tinggalkan Balasan