Tidak cukup komunikasi via media massa, online atau sosmed (Pelajaran dari Pak Harto untuk komunikasi COVID-19)

Yang pernah ikut kuliah Pak Alwi Dahlan (menteri penerangan terakhir Pak Harto), pasti pernah dengar cerita tentang perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia, di mana yang baru tidak serta merta menggantikan yang lama.

Contoh yang diberikan adalah cara undangan resepsi pernikahan.

Jaman dulu orang datang menyampaikan undangan dengan bertemu langsung dan menyampaikan secara lisan. Dalam perkembangannya, ada teknologi baru bernama surat menyurat, kemudian telepon.

Tapi dengan perkembangan praktik mengundang (sampai 90an) yang terjadi malah

1) orang menelepon untuk minta waktu datang ke rumah,

2) lalu datang membawa diri menyampaikan undangan secara lisan,

3) sambil menyerahkan sepucuk undangan.

Surat seharusnya dapat menggantikan kedatangan fisik. Telepon semestinya menggantikan surat. Tapi bukannya saling menggantikan malahan melengkapi.

Kesannya komunikasi jadi ribet. Tapi masalahnya, kalau hanya menyampaikan undangan via telepon, dianggap kurang serius. Undangan hanya via bersurat, sering dilupakan. Datang menyampaikan undangan tanpa surat undangan, dianggap basa basi (mungkin dianggap kuota sudah habis).

Dulu saya pikir bangsa ini tidak efisien. Tidak memanfaatkan teknologi buat hidup lebih mudah. Tapi seiring waktu akhirnya sadar bahwa komunikasi di Indonesia tidak bisa dilihat dari kacamata teori (barat) yang acapkali bicara tentang efisiensi.

Sikap saling menghormati dan menghargai merupakan kunci berkomunikasi bagi kebanyakan warga Indonesia. Dan salah satunya ditunjukkan dengan kehadiran komunikasi tatap muka, seminimalis apapun.

Banyak ibu-ibu ibu yang tadinya enggan ke posyandu atau pengajian lalu berubah sikap gara-gara disamperin sebentar oleh kader atau temannya. Mengapa kemudian mereka datang? Banyak yang menjawab, “Ga enak sama bu kader.” Komunikasi tatap muka adalah perkara menghargai atau menghormati orang, yang membuat orang itu balas menghargai atau menghormati.

Pak Harto, terlepas dari sepak terjangnya, adalah pemimpin yang paham betul cara berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia. Makanya, meski saat itu bisa berkomunikasi via TV, Radio, atau Koran, beliau tetap melakukan komunikasi tatap muka yang diamplifikasi via media massa.

Kelompencir salah satu kegiatannya. Beliau kumpulkan warga, sampaikan idenya secara gamblang, mendengarkan dan melakukan tanya jawab panjang lebar (tanpa harus di-stage, pakai telepromter/ layar baca, atau teks tercetak).

Betul-betul percakapan dan bukan hanya kegiatan selintasan atau bagi-bagi ini itu. Kelompencapir bukan cuma panggung untuk menunjukkan Pak Harto benar-benar memahami masalah luar dalam, solusi-solusinya dan juga mau mendengarkan warga, tapi yang tidak kalah penting, beliau menunjukkan sikap menghargai menghormati masyarakat dengan datang ke kampung dan bertatap muka langsung. Sama-sama lesehan. Atau sama-sama duduk. Dan ngobrol. Bukan berpidato atau buat acara lucu-lucuan.

Dalam situasi genting saat ini, di mana bangsa sedang menghadapi masalah hidup mati, para pemimpin mungkin bisa banyak belajar komunikasi dari Pak Harto. Salah satunya, tidak cukup menyampaikan pesan via media massa, online apalagi sosial media. Seminimalis apapun, perlu mengobrol langsung bersama warga.

Tinggalkan Balasan