Saat rekan-rekan menjauh gara-gara COVID-19

Perasaan baru kali ini saya minta moderator memastikan apakah benar pertanyaan yang disampaikan? Sampai 2 kali pula.

Ceritanya di pelatihan daring tentang komunikasi antarpribadi bagi rumah sakit – rumah sakit yang menangani COVID-19 ada seorang peserta japri moderator. Tidak di chat atau langsung ngomong. Wanti-wanti pula agar modertor tidak membuka namanya.

Pertanyaannya apa yang harus dia lakukan saat rekan-rekannya menjauhi dirinya padahal dia sudah sembuh dari COVID-19?S

Ada sedih muncul.Seorang tenaga kesehatan kena COVID-19 di tempat kerjanya. Dirawat, sembuh, dan waktu mulai kerja lagi, dijauhi dalam pergaulan.Waktu itu saya menyarankan dua poin. Pemimpin secara struktural harus bergerak. Sosialisasi, buat dukungan, desain ulang interaksi kerja dan lain-lain. Saya tidak menyarankan enforcement. Ini dunia interaksi antarorang. Repot kalau diwarnai hukum menghukum cuma gara-gara tidak mau bergaul.Tapi poin yang saya lebih tekankan adalah sikap mental dan inisiatif komunikasi ybs.

“Inget-inget pelajaran kita sebelumnya, ibu/ bapak. Dia jual ga usah beli. Kita kita mendekat, trus orang-orang agak menjauh, ya ga usah tersinggung. Senyum saja. Becandain: pada takut ya he he he….?”

Saya minta yang bersangkutan untuk ambil inisitatif dan aktif membangun hubungan karena dua hal. Pertama, supaya sehat mentalnya. Kalau menarik diri, maka prasangka ybs bahwa orang-orang menjauhinya akan semakin termaterialisasi. Menambah tekanan mental. Lama-lama merusak. Jadi mending “serang” saja.

Beri salam dan sapa para kolega. Tidak apa-apa berulang-ulang sampaikan terimakasih atas doa dan dukungan mereka yang bantu kesembuhan. Sering-sering tanya apa kabarnya? Atau ada yang bisa dibantu?

Ingatkan juga untuk protokol kesehatan. Jangan lupa, tambahi dengan senyum dan jempol.

Kalau belum bisa secara tatap muka langsung, mulai saja via WA atau WAG. Pokoknya “serang” saja.

Yang kedua. Orang akan berubah, kok. Pengaruh akan sampai kalau kita mengambil inisiatif berkomunikasi yang berorientasi pada kebutuhan orang-orang (bukan kebutuhan kita untuk diperhatikan, didekati atau dirangkul).

Tanya kabar anaknya. Sampaikan informasi baru yang penting. Kalau perlu bawa makanan-makanan kecil untuk disantap bersama.|

Kalau mereka belum mau menyentuhnya, coba deh pergi menjauh. Pasti dikerubutin makanan kita.

Tinggalkan Balasan