Rasa bersalah dan malu untuk edukasi masker

Robert Levine (2003) bilang guilt and shame are more powerful than rules and laws atau rasa salah dan malu lebih kuat dibandingkan aturan dan hukum untuk merubah perilaku.

Sumber kekuatannya juga berbeda. Rasa salah dan malu mengatur perilaku seseorang seperti kehadiran polisi dikepala. Kebayang terus. Seperti ada yang jagain. Ini adalah normal sosial, aturan tidak tertulis, harapan masyarakat.

Di lain pihak, aturan dan hukum berasal dari faktor eksternal. Makanya, kepatuhan berlaku ketika pak polisi ada di tempat atau dikira ada di tempat. Dan acapkali, begitu tidak ada, kepatuhan hilang.

Keduanya sebetulnya bisa kompatibel. Dicontohkan Levine, ketimbang polisi pura-pura jadi hidung belang yang yang mencari PSK untuk menangkapnya, di sejumlah kota, dibuat sebaliknya, polisi (perempuan) pura-pura jadi PSK dan menangkap para hidung belang yang berhasrat menggunakan jasanya. Yang pertama tidak akan menghasilkan rasa bersalah dan malu dan hasilnya masalah tidak kunjung selesai. Hari ini ditangkap, besok PSK bekerja lagi.

Tapi kalau yang ditangkap para hidung belang, maka dia akan menanggung rasa salah dan malu. Kebayang bagaimana dia harus menghadapi keluarga dan komunitasnya, kan?

Rasa bersalah dan malu bisa juga diterapkan pada perilaku pakai masker. Jangan hanya denda duit atau hukuman lain seperti push up, suruh bersihin kuburan atau masuk peti-petian, karena di sana tidak ada rasa salah dan malu.

Coba buat pelaku merasa bersalah dan malu.Perlu banyak jurus untuk mewujudkan norma sosial yang mendukung. Media massa dan media sosial perlu mengampanyekan pemakaian masker sebagai norma (misalnya, penggambaran orang yang tidak pakai masker sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap kematian lansia atau orang rentan di keluarga dan komunitasnya).

Di lapangan, jurusnya bisa lebih sederhana. Dalam Pelatihan Komunikasi Tatap Muka bersama CISDI dan Nakes di Jakarta Utara, sempat dibahas ide untuk mengajari para pelaku (tidak pakai masker) nyanyian lalu mereka digiring ke kumpulan-kumpulan warga atau tempat-tempat m akan untuk bernyanyi dan berjoget.

Bang Maskernya (Adaptasi dari Judul-judulan, Joni Iskandar)

Bang maskernya jangan lupa untuk dipasang
Bang maskernya jangan lupa untuk dipasang
Masker penting untuk menjaga
Ibu bapak dan juga abang
Dari serangan virus corona

Saya negur bukan menantang
Jangan marah si abang sayang
Agar selamat
Kita semua


Kan lumayan tuh. Buat malu, edukasi orang-orang lain dan sekalian menanamkan pesan pakai masker ke kepala mereka.

Tinggalkan Balasan