Pesan berbasis kelas (ancaman kemiskinan)

Orang miskin dilarang sakit. Pesan itu kembali muncul dalam pikiran beberapa minggu ini. Pertama mendengar pesan itu di awal 2000an ketika tempat kerja saya (Koalisi untuk Indonesia Sehat) bermitra dengan teman-teman INSIST, yang banyak melakukan pendidikan popular dan kerja advokasi.

Saya pertama mendengar pesan itu dari mereka. Pesan berbasis kelas.

Berbeda dengan orang kaya, orang miskin akan babak belur kalau jatuh sakit. Biaya kesehatan mahal. Pemasukan pun tidak ada.

Dua dekade berselang, pesan itu teringat kembali setelah mendengar cerita keluarga dan kawan-kawan yang harus mengeluarkan uang tidak sedikit karena terkena COVID-19. Gara-garanya, sarana kesehatan yang ditanggung negara sudah penuh. Di media massa semuanya terdengar manis. Sarana tidak terbatas. Hmm, cerita-cerita yang saya dengar dari orang-orang tidak selalu begitu.

Teringat kalau nawar barang sesuai harga di media massa.

“Di koran harganya 200 ribu aja, Bang?”
Jawabannya lugas. “Kalau begitu, beli aja di koran.”

Baru saja seorang kawan cerita susahnya mencari rumah sakit rujukan. Bahkan sarana kesehatan yang memberi rujukan sempat menyarankan,

“Pak kalo kita rujuk ke swasta bagaimana? Tapi nanti jadi pasien mandiri dan bayar sendiri.”

Orang perlu siap-siap setengah M bila mengambil jalur mandiri ini.Lha, bagaimana dengan orang miskin? Bagaimana mengumpulkan setengah M?Jangankan orang miskin. Kelas menengah pun bisa babak belur bila harus menanggung setengah M, apalagi bila mereka tidak tercover asuransi kesehatan yang mumpuni.

Bagaimana membayarnya? Apalagi yang harus dijual? Rumah? Tanah? Pinjam sana sini? Bagaimana nasib keluarga? Anak-anak?Di saat sarana kesehatan semakin penuh, kehilangan ekonomi merupakan ancaman serius tapi sekaligus bisa jadi sumber motivasi bagi orang untuk mempraktikkan perilaku cegah COVID-19: jaga jarak, pakai masker dan sering cuci tangan pakai sabun dengan lebih disiplin.

Bukan hendak bersikap oportunis dengan memanfaatkan keadaan yang sulit. Tapi setiap orang memang perlu memikirkan kok, mau jatuh jatuh miskin karena kena corona?

Tinggalkan Balasan