Pesan ancaman dan “saya bisa!”

Rekan JHU/CCP berbagi slide tentang konsep yang sering dipakai untuk menyusun pesan risiko kesehatan (Witte, 2001). Ringkasnya, komunikasi risiko akan efektif bila pesannya mempertimbangkan dua komponen yang dirumuskan dengan pas, yaitu 1) ancaman (dari persepsi khalayak) dan 2) kemampuan melakukan tindakan yang dianjurkan (menurut kacamata khalayak sendiri).

Kata persepsi khalayak atau menurut kacamata khalayak sendiri harus digaris bawahi karena ini urusan komunikasi. Dalam dunia komunikasi, urusannya jadi subjektif.

Teroris. Apakah ancaman tingkat tinggikah?

Di Indonesia, teroris bom di Jalan Sudirman dulu malah jadi tontonan. Bukannya lari menyelamatkan diri, orang-orang malah berkerumun. Kerumunan berarti uang, makanya banyak pedagang berjualan.

Padahal, dari perspektif keamanan, teror bom di Jalan Sudirman adalah ancaman tingkat sangat tinggi. Menurut Witte, agar efektif, ancaman yang dirumuskan harus dipandang sebagai sesuatu yang bisa mengenai khalayak (“Oh, gua juga bisa kena virus corona, nih”) dan dampaknya serius (“Wah, kalau kena virus corona bahaya, nih. Bisa ga bisa napas.”).

Kuncinya adalah rumusan yang pas. Kalau saya merasa tidak akan kena virus corona, ya saya akan cuekan semua panduan kesehatan. Kalau akibatnya cuma demam-demam bagaimana gitu, ya bodo amat.

Pilihannya banyak.

Suceptibility: bisa kena kawan saya, saya sendiri, orang tua saya yang rentan, anak balita saya, dll.

Severity: bisa demam, tidak bisa kerja, sesak napas, masuk rumah sakit, di isolasi di rumah sakit, mati, mati perlahan-lahan karena tidak sesak napas, mati sendirian, mati tidak ada tahlil, mati tidak ditemani ke kuburan atau lainnya.

Kita harus pilih yang pas (jangan semua). Pas dari kacamata khalayak. Bukan pas menurut komunikator. Setiap kelompok khalayak mungkin membutuhkan pesan berbeda.

Bagian keduanya adalah pesan harus menunjukkan perilaku yang ditawarkan (jaga jarak, pakai masker, cuci tangan pakai sabun dll.) mudah dan bisa dilakukan dan dipandang efektif mencegah penularan. Aspek ini bisa dirumuskan eksplisit atau implisit (implisit misalnya, imej anak yang bisa pasang masker sendiri dan orang-orang bugar dengan masker).

Kalau seseorang merasa perilakunya sulit dilakukan, maka dia tidak akan peduli saran-saran kesehatan dan cuma berusaha mengurangi ketakutan saja. Demikian pula kalau dianggap kurang efektif.

Apakah model Witte ini efektif diterapkan di Indonesia?

Jawaban saya adalah model bisa digunakan tapi tidak cukup. Bolong di model Witte ada pada aspek sosial. Di Indonesia atau setidaknya di kampung-kampung sekitar saya (yang bisa diamati), sebagian perilaku terkait erat dengan aspek sosial.

Yang mudah terlihat adalah jaga jarak. Orang merengsek maju dan orang lain, tidak mau mundur mengambil jarak adalah bentuk keakraban, saling menghargai, persaudaraan dll. Dalam bencana (tapi bukan COVID-19) perilaku saling mendekatkan fisik justru merupakan bentuk mengurangi ketakutan dan saling menguatkan.

Aspek mangan ora mangan ngumpul ini tidak dibahas Witte.

Ya, ga apa2 juga. Dia kan membangun teori dari budaya barat (yang lebih individualis – rasionalis). Tinggal kita lengkapi saja teorinya. Ga usah repot.

Tinggalkan Balasan