Menghadapi penolakan emosional

Dapat laporan relawan beberapa kota, sejumlah warga kebosanan bahkan kejengkelan pada edukasi COVID-19. Saat disambangi muncul sinisme bahkan menyuruh pergi. “Apa lagi ini? Sudah capek kami!”

Edukasi bisa menyulut emosi dengan beragam alasan. Bisa karena tertekan secara ekonomi, dari awal tidak percaya, atau kebanyakan informasi.

Bagi relawan, menghadapi orang emosional bisa jadi malapetaka tapi bisa juga jadi peluang. Sedikit pengalaman dan teori berikut mungkin bisa bantu relawan memanfatkannya jadi peluang.

Sebelum berkomunikasi, ingat-ingat:

1. Jangan bebani diri. Tugas relawan hanya menyampaikan. Sukses atau gagal, urusan Yang Punya Dunia.

2. Usahakan kerja edukasi menambah semangat. Seperti waktu habis ngobrol berjam-jam bersama kawan yang asyik, kita jadi lebih semangat ketimbang kelelahan. Kuncinya, obrolannya menyenangkan dan ngomongnya gantian (jangan hanya kita yang bicara tapi juga warga)

3. Pandang orang yang ngomong, meski marah-marah, lebih baik ketimbang yang diam. Selagi ngomong, teknik-teknik berikut bisa diaplikasikan. Kalau diam, kita tidak bisa apa-apa.

4. Ukur diri. Seberapa emosional orang yang dihadapi? Apakah ada gelagat main fisik? Kalau ada gelagat, tinggalkan.

Pada dasarnya menghadapi orang emosional itu seperti mancing. Kalau ikan gede gigit umpan kita, jangan langsung ditarik. Nanti putus senarnya. Biarkan saja berenang ke sana ke mari, menghabiskan tenaga. Setelah lelah, baru tarik.

Waktu orang mengekpresikan emosi, jangan langsung luruskan atau patahkan. Venting dulu (ingat ventelasi, tempat udara keluar masuk).
Salah satu caranya menyambung percakapan dan akhiri dengan pertanyaan (tapi harus dengan rendah hati, jangan nyolot).

Warga : “COVID-19 melulu, bosen!”
Relawan : “Oh iya, pak. Sudah sering dapat ya. Bapak dapat informasi dari mana saja sih?”

Berikut contoh pengalaman pribadi sekitar 15 tahun lalu.

Warga : “Orang seperti kamu sudah sering datang kemari. Ga ada manfaat. Cuma ngomong doang. Pergi aja sana gih!”

Relawan : “Kalau boleh tahu, apa yang dilakukan relawan sebelumnya?”

Warga: “Kaga ada! Ngomong doang. Cuma buang-buang uang projek aja.”

Relawan : “Ooh. Bang, jujur aja ya, saya ga mau seperti yang dulu-dulu. Kira-kira apa yang perlu saya lakukan supaya bawa manfaat?”

Warga: “Ada aksi dong! Buat pelatihan, kek.”

Relawan : “Oh, pelatihan ya. Pelatihan apa, Bang?”

Warga: “Buat pupuk misalnya. Kan banyak itu sampah sayur dari pasar. Buat dong pelatihannya”

Relawan : “Siap, bang. Mari kita diskusikan pelatihann buat pupuk.”

Selain percakapan nyambung dan venting, masih banyak cara lain yang bisa dicoba. Misalnya dengan menunjukkan respek.

• Kalau si Ibu sedang bersama anak, (dari jarak aman) jongkok biar mata sejajar, sapa dan ajak ngobrol si anak

• Tanggapin emosi dengan senyum yang rendah hati dan buka obrolan dengan sesuatu yang bisa menyentuhnya.

o Di sini mesjidnya di mana ya, pak? (ke warga yang penampilannya tampak relijius)

o Kalau mau ngopi santai di mana ya, bang? (ke pemuda yang kelihatannya suka nongkrong)

o Posyandu buat anak-anak balita di mana ya, bu? (ke seorang ibu)

Masih banyak lagi cara yang bisa dicoba. Dicoba saja karena tugas relawan itu hanya mencoba mengedukasi orang. Kalau sudah berusaha tapi tetap diusir, ya pergi saja. Ga usah dipikirin. Kalau orangnya menerima, alhamdulillah. Mainkan deh.

Tinggalkan Balasan