Ekses tiada hari tanpa razia (masker)

Seorang relawan cerita saat ini tiada hari tanpa razia masker.

“Kalau dapat, disuruh push up itu orang tak bermasker.”

Dalam satu bincang-bincang radio, seorang wakil walikota juga cerita tiap hari timnya, satpol PP, kejaksaan, kepolisian bahkan TNI bersama-sama keliling kota menyisir orang tidak bermasker.

Akibat inpres 6/2020 banyak daerah mulai galak-galaknya menjalankan E pertama dalam model intervensi perubahan perilaku, yaitu enforcement. Penegakkan hukum membentuk perilaku warga atas dasar rasa jera, takut, ogah kena denda, sanksi, atau hukuman (sosial). Perilaku terbentuk secara paksa.

Dalam masa wabah di mana semua E menjumpai keterbatasannya, maka pilihannya memang melaksanakan semua (enforcement, engineering dan education). Meng-anakemas-kan satu E bisa menimbulkan ekses.

Apa eksesnya kalau kebanyakan enforcement dan kurang education?

Jawabannya langsung saya dapat dari seorang Satpol WH (Wilayatul Hisbah) sewaktu pelatihan Komunikasi Tatap Muka Cegah COVID-19.

“Wilayah kami di jalan-jalan utama. Kami bisa jaga warga. Tapi bagaimana dengan di gampong-gampong? Kami lihat warga masih kumpul dan tidak pakai masker.”

Enforcement memang sangat terkait dengan kemampuan pengawasan. Jadi jangan samakan enforcement perilaku 3M dengan pakai seatbelt atau pakai helm.

Dalam wacana urusan seatbelt, Indonesia memang dikenal berhasil merubah perilaku secara cepat. Saat belahan dunia lain butuh waktu tahunan, di Indonesia 6 bulan sudah selesai (setidaknya di Jakarta). Tapi jaga mobil beda dengan jaga orang. Mobil tinggal dijaga di jalanan kunci (besar atau strategis). Apalagi sekarang ada kamera otomatis. Jadi lebih mudah.

Sementara orang itu perlu dijaga orang sejak keluar rumah. Di gang-gang. Warung-warung. Di tempat-tempat kumpul. Apakah diawasi dan dilakukan bisa terus menerus? Alhasil, karena bukan atas pemahaman dan sikap positif, sebagian orang pakai masker saat dibutuhkan saja (lolos dari enforcement). Ini bukan saya yang bilang. Lagi-lagi, satpol PP cerita.

Relawan di NTT: “Berarti sekarang masyarakat sudah lebih sadar untuk pakai masker e?”

Ibu Val: “Tidak juga, Non. Sekarang mereka pakai masker ni karna takut kami. Jadi waktu kami turun baru mereka ribet cari masker untuk pakai. Pokoknya waktu kami turun tu nanti kami dapat dengar mereka bilang: pake masker su, pake masker su, polpp sudah datang- itu baru mereka kasih keluar mereka punya maker dari tas, ambil mereka punya masker yang mereka gantung di tiang, macam-macam pokoknya.”

Mudahnya, ekses enforcement dominan adalah perilaku formalitas. Menjauhkan dari denda tapi tidak menjauhkan dari virus corona.

Tinggalkan Balasan