Catatan Q&A di Pelatihan Komunikasi Perubahan Perilaku #6

Warga ga mau berubah perilakunya. Stress kami melihatnya. Harus bagaimana lagi?

Komunikasi perubahan perilaku memang bukan kerjaan mudah. Bukan hanya bagi kita, di luaran sana banyak juga yang frustasi. Orang tua berusaha anaknya rajin belajar. Anak tetap males-malesan. Jadi stress. Pak RT minta warga tidak buang sampah sembarangan. Tetap aja. Tidak ketahuan, sebelum adzan subuh, sampah numpuk di jalanan. Pak RT jadi stress dan semakin menjadi karena dimarahin pak RW.

Jangan bicara teknik atau metode dulu. Kita bicara sikap, mental. Ambil contoh agama yuk. Di kitab suci, yang saya tahu qur’an, ada ayat-ayat di mana Yang Maha Pencipta ini bilang ke nabi: kewajiban nabi hanyalah menyampaikan. Nabi tidak akan diminta pertanggungjawaban orang masuk neraka atau tidak dll.

Saya menangkapnya sebagai dua hal. Pertama, ini cara Yang Maha Kuasa mengangkat beban psikologis nabi agar tidak bekerja penuh tekanan. Supaya lebih nyaman. Rileks. Seperti kita misalnya kalau stress sama jualan karena konsumen tidak nambah-nambah, lalu bos bilang.

”Udah yang penting lu kerja all out. Jangan pikirin hasilnya. Kerja serius saja.”

Senang kan mendengarnya?

Nyambung ke yang kedua. Saat melupakan target kita lebih memperhatikan upaya, cara-cara atau metode yang dilakukan. Kerja komunikasi perubahan perilaku membutuhkan kondisi mental yang nyaman dan rileks. Dalam tekanan, susah berkomunikasi optimal. Bawaannya senewen. Atau sedih. Emosional. Sensitif lihat orang berperilaku atau bereaksi tidak seperti diharapkan. Akibatnya kita enggan mendengarkan dan memahami orang dan kreativitas jadi tumpul. Jadi melupakan target sebetulnya akan mendorong kita mencari-cari cara-cara yang lebih kreatif dan inovatif untuk mempengaruhi perilaku.

“Wah, yang ini ternyata belum nembus. Minggu depan mau buat yang kaya gini, ah.”

Kita jadi mencoba dan berusaha terus.

Buat pengelola program, mungkin jadi aneh. Masa kerja ga ada target?

Maksudnya bukan tidak ada target sama sekali tapi targetnya apa dulu? Jangan samakan kerja komunikasi perubahan perilaku dengan kerja-kerja lain yang hasilnya bisa diprediksi. Seperti pengantaran barang, misalnya, sehari 20 tempat. Bangun gedung, 2 bulan.

Dalam kerja komunikasi, faktornya banyak. Kalau target yang dikedepankan, proses jadi kurang bernilai. Bahkan bisa melenceng. Rekan-rekan guru paham betul, saat UN jadi target, pengaruhnya terasa pada praktik mengajar. Bahkan, pada sebagian kecil, seperti yang diberitakan di media massa, muncul itu yang aneh-aneh dalam kegiatan ujian itu sendiri.

Jadi buat kawan-kawan relawan, tidak perlu pikirin hasil. Biarlah orang berubah perilaku atau tidak itu jadi keputusan Yang Maha Kuasa.

Kita sih coba-coba, otak-atik, berkreasi saja sebisa kita.

Tinggalkan Balasan