๐—ž๐—ผ๐—บ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ธ๐—ฎ๐˜€๐—ถ ๐—ธ๐—ฒ๐˜€๐—ฒ๐—ต๐—ฎ๐—ฟ๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ฝ๐—ฎ๐—น๐—ถ๐—ป๐—ด ๐˜€๐—ฒ๐—ฑ๐—ฒ๐—ฟ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐—ฎ

Tugas kedua bagi relawan di sesi belajar Komunikasi Perubahan Perilaku adalah menyapa 25 orang yang tidak dikenal di kampung atau tempat umum agar pakai masker. Singkat saja. 5 detik sudah cukup. Kecuali bila ybs ingin mendengar lebih jauh, silakkan dilayani.

Mungkin bukan bentuk intervensi yang sexy menurut ukuran banyak pihak. Apa sih yang bisa didapat kalau hanya menyapa-nyapa, menesahati orang sambil lalu begitu?

Namanya memang komunikasi tatap muka selintas lalu, seketemunya. Tapi meski selintas lalu, bisa jadi ada efeknya.

Saya membayangkan diri keluar rumah ke jalan tidak pakai masker. Lalu tiba-tiba ada yang menyapa,

โ€œBang, maskernya, ya.โ€

Saya mengangguk. Mikir, diingatkan nih sama orang.

Jalan 100 meter, ada seorang anak SD menyapa, โ€œAbang ganteng, masker doong.โ€

Dalam hati, saya akan berpikir, ada apa ini? Jangan-jangan memang bener harus pakai masker.

Menyapa-nyapa begini setidaknya menyasar dua hal. Pertama adalah norma sosial. Pengembangan norma sosial tidak bisa dengan pidato, โ€œMari jadikan perilaku menjaga jarak, pakai masker dan cuci tangan pakai sabun sebagai norma kita bersama.โ€ (ampuun deh).

Tapi harus muncul langsung di masyarakat. Buat orang teringat pada satu perilaku dan kurang nyaman kalau tidak melakukannya.

Yang kedua, karena ini adalah pelatihan bagi relawan edukator masyarakat, kegiatan menyapa-nyapa begini adalah latihan, khususnya bagi relawan baru.

Jangan dong dicemplungin langsung suruh edukasi di kelompok warga selama 30 menit. Sudah mah tidak dibayar, dibuat stress pula.

Beri pengalaman sedikit demi sedikit agar kepercayaan diri dan keterampilan komunikasinya meningkat. Mulai dari menyapa 5 detik. Lalu edukasi singkat 3-5 menit. Baru kemudian dikasih yang berat-berat seperti memfasilitasi dialog warga pasar.

Menyapa yang 5 detik ini pun ada teknik-tekniknya. Silah cari-cari di situs ini ya.

Tinggalkan Balasan