Menghadapi tudingan yang pedih

“Ibu agamanya apa sih sebenarnya?” Demikian respon yang didapat seorang ibu, relawan Jakarta Utara saat mengajak ngobrol pedagang-pedagang tentang masker.

Kaget bener si ibu mendengarnya.

Pakaiannya jelas muslimah banget, gaya ibu-ibu majelis taqlim. Kok ditanya agama?

Para pedagang jelas tidak beneran bertanya apa agama si ibu tapi lebih mempertanyakan keyakinan si ibu. Kok bisa tidak percaya Tuhan akan melindungi? Kok sampai takut sama corona? Dan lain-lainnya.

Kalau ngikutin nafsu, si ibu relawan akan tersinggung. Kok bisa-bisa menghina begitu?!?

Untungnya si ibu relawan orangnya sabar dan paham komunikasi untuk perubahan perilaku itu urusan jangka panjang. Kalau kita tidak berhasil hari ini, jangan buat konflik sampai memutus hubungan. Kalau hari ini tidak berhasil, tidak apa-apa. Yang penting hubungan terjaga sehingga besok-besok kalau bertemu lagi masih ada kesempatan untuk mengedukasi.

Dalam situasi komunikasi saat ini kita harus pilih jalur yang ga baperan, tidak berkonflik. Bisa jalur humor alias dibuat ketawa ketiwi saja sambil mengembangkan hubungan yang lebih akrab. Contohnya.“Agama? Islam ah. Nih jilbab gede begini apa ga lihat apa? Atau“Hayo tebak tebak. Apa coba? Kalau bener saya kasih nih kue yang baru gua beli. Masih anget nih.”

Atau “Saya Islam. Kalau abang-abang agamanya apa nih. Islam juga? Nah tos dong kita! Eh, tapi jangan kena.”

Jalur nonbaperan bisa membawa orang-orang ngobrol lebih lama dalam rangka untuk dipahami (bukan diceramahi). Makanya kita perlu banyak bertanya dan mendengarkan. Lama-lama orang akan tahu kita tidak bermaksud menyalahkan mereka dan malah menghargai mereka.

Di sela-sela itu, jangan lupa tanya nama dan gunakan namanya dalam percakapan. Dan tidak lupa kenalkan diri.

Kalau ada kesempatan mengedukasi, silahkan manfaatkan. Tapi kalau belum berhasil atau malah diledekin, tidak usah berkecil hati. Ikut ketawa saja. Yang penting terbangun hubungan yang lebih baik.

Tadinya tidak kenal, jadi kenal. Tadinya tidak tahu nama, jadi tahu namanya. Bahkan, siapa tahu kita berasal dari daerah yang sama? Kalau besok-besok mampir lagi, kita masih memiliki kesempatan mengedukasi. Kalau urusan corona belum berhasil, tidak apa. Buat lebih akrab saja. Siapa tahu dilebihin satu potong gorengan.

Tinggalkan Balasan