Bertanya Untuk Mendapat Jawaban Jujur Pasien

Gara-gara pasien tidak jujur menceritakan riyawat perjalanan atau kontak, tenaga-tenaga kesehatan banyak tertular.

Berita semacam ini bukan sekali dua kali kita dengar. Awal mulanya, pasien yang tidak jujur.

Dalam perspektif komunikasi, jawaban yang disampaikan pasien adalah hasil interaksi dengan tenaga kesehatan. Jadi, pertanyaan yang dilemparkan tenaga kesehatan dan cara-cara bertanya ikut menentukan jawaban dari pasien.

Berbeda dengan pendekatan enforcement yang melihat pasien sebagai pihak yang bersalah (dan untuk dimensi ini saya sepakat), pendekatan komunikasi lebih fokus untuk berintrospeksi, memperbaiki kecakapan komunikator (tenaga kesehatan). Mempelajari sejumlah kasus, muncul gagasan rumusan tata cara bertanya mendapat jawaban jujur sbb.

1. Awali dengan pertanyaan terbuka dengan santai. Jangan memulai dengan pertanyaan terutup apalagi yang mengarahkan (leading).“Dalam dua minggu ini bapak pergi ke Jakarta ya?” atau “Dalam dua minggu terakhir bapak tidak ke Surabaya, kan?”

Pertanyaan tertutup apalagi yang leading sebetulnya sudah berisi jawaban. Orang kemudian lebih bereaksi terhadap jawaban itu, ketimbang pengalamannya. Buat orang yang sedari awal hendak menyembunyikan, maka segera berkata, “Tidak kok, dok. Saya tidak ke sana.”Buat orang yang awalnya tidak hendak berbohong akan berpikir-pikir, “Ada apa ini? Apakah akan disalahkan?” dan kemudian mencari jawaban yang aman.

Jadi mulailah dengan pertanyaan terbuka. “Dalam dua minggu ini Pak Asmi kemana aja nih..yo cerita, pak.”

Selain terbuka, pertanyaan harus disampaikan dengan santai, tidak terkesan mencari kesalahan apalagi memojokkan. Irama dan intonasi pertanyaan menjadi penting. Bertanya-nya santai saja. Agak terkesan humor juga tidak apa-apa.

2. Dengarkan secara aktif dan dibuat santai lagi. Tiap mendapat jawaban, jangan lantas disambut: “Kemana lagi?”, “Habis itu kemana lagi?” Dengarkan, nyambung dulu. Orang merasa nyaman bila didengarkan.

“Dalam dua mingggu ini bapak kemana aja nih..yo cerita, pak”
“Saya ke Banyuwangi, dok..”
“Liburan ya?”
“Iya, dok..”
“Wah, enak banget. Sempat ke pantainya tidak? Katanya bagus, ya?”
”Iya, dok………“Nah setelah ke Banyuwangi, kemana lagi?”

3. (Bila diperlukan) Mulai tegas. Untuk memastikan jawaban pasien itu apa adanya, kita bisa mulai “menekan” pasien dengan menjelaskan alasan kita bertanya-tanya (semisal tentang riwayat perjalanan, khususnya dalam kepentingan si pasien.“Pak Asmi, saya bertanya-tanya tentang ke mana saja bapak pergi bukan apa-apa ya tapi agar kami bisa mengambil tindakan atau memberi perawatan yang tepat bagi bapak. Kalau cerita Pak Asmi belum lengkap, nanti salah pula kami mengambil tindakan. Begitu ya pak Asmi. Jadi, mungkin ada daerah yang lupa bapak sampaikan?”

4. Pilihan terakhir: pertanyaan tertutup leading dengan memperhatikan nonverbal. Moga-moga tidak diperlukan tapi pilihan terakhir untuk memastikan adalah dengan melempar pertanyaan tertutup dan di sini kita perhatikan betul nonverbal si pasien.

“Apa bapak sempat pergi Surabaya?”

Perhatikan nonverbal pasien apakah ada kejanggalan? Perhatikan bola mata, nada suara, dan lainnya.

Moga-moga berguna.

Tinggalkan Balasan