𝗞𝗼𝗺𝘂𝗻𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗖𝗢𝗩𝗜𝗗-𝟭𝟵: 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗶𝗸 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗮𝗽𝗮 𝗦𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁

Menyapa singkat orang tak dikenal mungkin bentuk komunikasi paling mudah bagi relawan untuk mempromosikan perilaku-perilaku pencegahan. Sapa lalu berlalu.

Kalau orangnya sewot, tinggal bilang maaf. Kalau angkat parang, kabuuuur. He he he. Becanda.

Justru menyapa singkat itu harus dibuat aman, menyenangkan dan bahkan mengakrabkan. Kan komunikasi itu bukan hanya urusan pekerjaan (intrumental, menyampaikan pesan). Tapi relational (membangun hubungan).

Untuk menyapa versi kurang dari 5 detik. Berikut panduan longgarnya.

1. Beri tanda yang halus. Jangan langsung menyampaikan pesan, “Mama, pakai masker!” Apalagi dengan suara tegas. Pertama, orang bisa kaget. Kalau kaget, reaksi orang bisa tidak terduga. Bisa marah. Kedua, orang tidak perhatikan karena remote control-nya sedang ditujukan pada hal lain. Jadi sia-sia.

Beri tanda dulu. Secara nonverbal. Semisal, menurun-nurunkan tubuh, sedikit membungkuk, melambatkan langkah, memiringkan kepala, mengangkat tangan, menunjuk-nunjuk masker sampai gerakan-gerakan lucu, juga boleh.Bisa juga dengan suara. Hmmm. Bersenandung. Dll.

Saat orang ngeh ada kehadiran seseorang yang ingin bicara, baru masuk langkah selanjutnya. Catatan: jangan maksa meminta perhatian orang yang sedang sibuk. Misalnya, pedagang buah yang sedang ribet melayani pembeli. Bisa-bisa Anda dilempar duren.

2. Sampaikan pesan dengan mengayun. Terus terang ini gaya orang yang tidak konfrontatif. Tapi ada alasannya. Kerja komunikasi, apalagi bagi relawan, harus menyenangkan. Ini urusan jangka panjang. Berantem itu cuma merugikan.Jadi sampaikan dengan cara yang enak didengar. Pilih kata-kata yang tidak menyalahkan. Eksperimen bersama rekan-rekan FPRB (Forum Penurunan Risiko Bencana) Jabar, yang didukung UNICEF, menemukan sejumah frase yang lebih mudah diterima. Semisal, lupa.

“Mpok, lupa pakai masker ya”

Penjelasannya mudah. Lupa itu tidak dosa. Jadi orang tidak merasa disalahkan.

Lain daerah, lain caranya. Relawan di Medan melaporkan, sapanya harus bawa-bawa kata razia.

“Bang, banyak razia lho sekarang”
“Jangan lengah, ada razia, bu.”

Yang pasti jangan konfrontatif. Kalau perlu, sampaikan dengan cara bersenandung.

(Nada lagu Ondel-Ondel, Djoko Subagyo)
Nyok kite pade jaga jarak, nyoook
Nyok kite pade jaga jarak, nyoook


(Nada lagu Judul-Judulan, Joni Iskandar)
Bang maskernya jangan lupa untuk dipasang
Bang maskernya jangan lupa untuk dipasang


3. Komunikasi nonverbal. Kalau dijawab positif, bagus! Itu sudah hasil.

“Iya, nih”
“Makasih ya”

Tapi jangan lupa, yang lebih di dalam hati itu nonverbal. Jadi, kalau mendapat anggukan, senyuman, atau jempol, jangan berkecil hati. Justru itu lebih asli.

Teman-teman relawan, silahkan dicoba-coba. Dengan inovasi dan modifikasi, tentu saja.

Minimal dengan 25 orang berbeda supaya ditemukan pola. Jurus ampuhnya. Kalau sudah dapat, jangan lupa berbagi dengan kita semua ya.

Tinggalkan komentar