Mencari sumber inspirasi

11 Agustus 2017 - Posted by admin

Mencari sumber inspirasi

Suatu waktu seorang kawan fasilitator kebingungan mencari narasumber yang akan dimunculkan dalam forum sebagai sumber inspirasi/ motivasi.

Kawan fasilitator lain menyarankan mencari tokoh dari masyarakat setempat. Alasannya, banyak tokoh-tokoh di masyarakat sendiri, yang memiliki pengalaman dan kapasitas yang tidak kalah dengan tokoh “nasional”. Masalahnya cuma publisitas saja.

Saya malah menyarankan agar melatih partisipan supaya dapat menyerap inspirasi/ motivasi dari mana saja, dari siapa saja. Jadi, tidak perlu repot-repot mencari tokoh.

“Lho kok begitu?” Tanya kawan-kawan saya.

“Mendapat atau tidak mendapat inspirasi atau motivasi kan tergantung orangnya, bukan tergantung sumbernya” Jawab saya.

Contohnya mudah saja. Kalau ada seorang sumber inspirasi/ motivasi dihadirkan dan berbicara, tanggapannya pasti beragam. Ada yang merasa terinspirasi, biasa-biasa saja atau bahkan tidak sama sekali. Artinya, ada faktor khalayak di sini.

Pengalaman, nilai, norma, pengalaman orang berbeda-beda. Ya, mungkin ada karakteristik yang agak umum, tapi dari pada susah-susah mencari sumber yang pas buat sebagian (tapi memuaskan yang sebagian lain), lebih baik melatih partisipan menyerap inspirasi/ motivasi sehingga dia bisa mencarinya dari mana saja, dari siapa saja.

Teknik yang perlu dilatihkan sederhana saja: mendengarkan aktif, mengembangkan cerita, beberapa materi teknik aprsiasi, dan sedikit komunikasi nonverbal.

Kemudian, ajak partisipan praktik dengan menyebar di masyarakat dan mencari sendiri inspirasi atau motivasinya.

Umumnya, kawan-kawan partisipan yang kembali dari sesi praktik membawa banyak cerita yang meginspirasi mereka sendiri. Seorang partisipan bercerita tentang obrolannya dengan anak kecil penjual sosis.

Awalnya anak itu menjaga warung rokok bos-nya sampai pada satu saat dia berpikir harus menghasilkan uang lebih banyak bagi kedua orang tuanya yang sakit dan dua adik-adiknya yang masih sekolah.

Di alun-alun dia mengamati penjual sosis, yang harganya, menurutnya mahal buat anak-anak. Dari situ, dia mengecheck harga  sosis di pasar lalu memutuskan untuk menjual sosis bakar versi murah. Caranya dengan memotong menjadi ukuran lebih kecil, tapi terilhat besar (potongan memanjang).

Dia berjualan di dekat sekolah SD. Alhamdulillah laku dan setiap hari dapat mengantongi 40 – 60 ribu rupiah. Jumlah yang jauh lebih besar dari pada berjualan rokok.

Bagi kawan partisipan pelatihan, yang seorang wirausahawan, jumlah uang sebesar tu tentu sangat kecil. Namun, cerita anak itu tetap memotivasinya karena dia melihat nilai perjuangan, inovasi, dan berani beraksi.

Ya, itu berlaku bagi kawan partisipan itu. Belum tentu menginspirasi kita. Tidak masalah, lha itu kan sumber hasil penggalian dia sendiri.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 107 + 5 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile