Semakin sering berlatih, semakin ahli?

10 Oktober 2016 - Posted by admin

Semakin sering berlatih, semakin ahli?

Siapa bilang semakin lama melakukan sesuatu, maka semakin ahli? Atau, semakin sering berlatih, semakin ahli?

Faktanya ternyata tidak selalu begitu. Angela Duckworth berjudul Grit, the power of passion and perseverance menjelaskan bahwa lama atau sering berlatih tidak menentukan tingkat keahlian seseorang.

Angela memberikan contoh dirinya sendiri. Sejak usia 18 tahun dia suka olah raga lari. Hampir tiap hari dia berlari. Tapi, catatan waktu larinya tidak beranjak lebih baik. Masih jauh untuk berlomba di ajang-ajang lari.

Saya pribadi punya pengalaman yang cukup membekas. Di awal tahun 2000 saya pernah tandem dengan seorang fasilitator yang kemampuannya mengelola kelas luar biasa efektif. Menarik. Hidup. Menggembirakan. Penyampaian yang mudah dicerna. Jauh lebih keren dari pada sesi saya. Padahal, jam terbangnya tidak sampai separuh dari jam terbang saya.

Jadi, apa yang menentukan keahlian? Bakat?

Bukan, ternyata bukan bakat. Orang tetap harus melalui latihan dan jam terbang yang panjang untuk mencapai keahlian atau capaian yang tinggi.  Tidak ada dokter yang ahli mengoperasi, juara olimpiade, juara catur, tukang bangunan, atau juara atau ahli apapun yang memperoleh posisinya sekarang tanpa latihan dan pengalaman panjang.

Lantas, mengapa ada orang yang lama melakukan sesuatu, tapi tidak kunjung juga mencapai tingkatan ahli? Atau dengan kata lain, lama di bidangnya tapi biasa-biasa saja?

Angela menyodorkan konsep deliberative training. Latihan bukan sekedar latihan. Melakukan bukan sembarang melakukan. Selain sungguh-sungguh, lebih spesifiknya, para ahli ternama atau para juara berlatih dengan tujuan spesifik yang ingin dicapai, dipelajari secara cermat, mengetahui mana yang harus ditingkatkan atau melakukan perbaikan sedikit demi sedikit. Dia seksama mencermati proses dan hasilnya.

Kita boleh latihan lari tiap hari. Tapi kalau hanya lari begitu saja, tanpa tujuan, tanpa memperhatikan lari kita, tanpa mencermati capaian atau malah sambil menikmati musik, pikiran ke mana-mana, maka tentu, prestasinya tidak akan ke mana-mana.

Dua puluh tahun memasak dan melakukannya setiap hari, sama sekali tidak menjamin masakan kita lebih enak daripada orang yang baru 2 tahun belajar memasak. Khususnya, bila kita hanya sekedar memasak. Rutin.  Tidak ada tujuan yang ingin dicapai setiap kali memasak. Pikiran ke sana kemari. Tidak belajar dan mencermati hasil.

Konsep deliberative training mengingatkan saya pada cerita kawan-kawan penghafal Qur’an. Kata mereka, untuk menghafal, kita tidak bisa sekedar membaca. Puluhan kali membaca, sama sekali tidak menjamin hafal. Untuk menghafal, selain membaca berulang-ulang, perlu juga menetapkan tujuan setiap sesi menghafal. Oke, hari ini dua baris. Besok tambah dua baris lagi dan begitu seterusnya.

Penghafal pun perlu mencermati bacaannya. Saya tidak ingat istilahnya, tapi yang saya pahami, mereka mencari: mana nih rima-nya atau kata-kata mirip yang bisa membantu hapalan baris-baris ayat? Mana pengait satu ayat dengan ayat lainnya? Apa ciri-ciri khas suatu surat dan lain sebagainya? Dan itu harus mereka temukan sendiri.

Hari ini sudah hafal. Besok lupa. Trus dicari bagian yang lupa, dihafal lagi. Didalam bacaannya dicari kata-kata tertentu yang bisa membantu hafalan.

Selama menghafal, dipelajari pula kesalahan-kesalahan membaca, untuk diperbaiki lagi dalam bacaan berikutnya. Dan begitu seterusnya. Baris demi baris. Halaman demi halaman.

Kadang saya berpikir, jangan-jangan latihan menghafal Qur’an membantu kita melakukan pekerjaan kita secara deliberative. Membantu kita menjadi ahli. Siapa tahu. Perlu dicoba.

Yang jelas, jangan melakukan sekedar melakukan. Apalagi pada pekerjaan atau keterampilan yang menjadi sumber penghasilan kita. Lakukan secara deliberative. Bukan perkara lama atau sering melakukan, tapi lakukan secara cermat dengan tujuan memperbaiki secara bertahap. Kali ini mesti lebih baik dari kemarin.


Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

 

@Khartoum menuju El Fasher

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 153 + 4 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile