Sikap demanding justru penting

23 Agustus 2016 - Posted by admin

Sikap demanding justru penting

Umumnya, kita tidak suka memiliki orang tua yang demanding atau terlalu menuntut. “Saya ga mau tahu, kamu janji bereskan siang ini, ya saya tunggu sampai siang ini. Tidak ada sore, apalagi besok!”

Bagi sebagian orang, tekanan itu bisa saja membuatnya “tertekan”.

Tapi, tidak bagi orang-orang dengan pencapaian tinggi. Setidaknya itu yang dipelajari Angela Duckworth, profesor psikologi yang menjadi penasehat bagi banyak pemimpin-pemimpin organisasi besar, termasuk Gedung Putih, klub-klub NBA dan NFL, dan perusahaan-perusahaan di Fortune 500. 

Riset puluhan tahunnya mengenai grit (gairah seseorang dalam jangka panjang pada suatu hal dibarengi ketekunan untuk mencapai tujuannya, yang akhirnya menentukan pencapaiannya) menemukan bahwa guru, orang tua atau bagi kita, pendamping, yang berhasil adalah yang demanding, banyak dan keras menuntut agar yang didampingi selalu mengikuti tata aturan yang disepakati, menerima hukuman bila salah, dan berjuang sampai akhir untuk mencapai tujuan.

Itu catatan, sikap demanding harus dibarengi dengan sikap supportive (mendukung).

Salah satu kisah yang diceritakan dalam bukunya Grit, the power of passion and perseverance, adalah pengalaman Steve Young, seorang legenda quarter back dari San Francisco 49ers.

Sewaktu meniti karir football di bangku kuliah, Steve mengalami masa-masa sulit. Di tahun-tahun awal dia menjadi “hamburer squad”, kelompok yang dinilai kurang bernilai dan dalam latihan, kerjanya hanya berlari untuk “dihajar” atau di-tackle barisan pertahanan.

Tidak tahan akan situasi itu, dia menelephon ayahnya, “Ayah, saya sengsara. Tidak seperti yang saya bayangkan di awal. Saya cuma jadi boneka untuk latihan takle barisan pertahanan. Pelatih pun tidak tahu nama saya. Saya mau menyerah, mau pulang saja...”

Ayahnya saat itu menjawab, “Boleh saja kamu  menyerah, nak. Tapi kamu ga boleh pulang ke rumah. Saya ga mau tinggal dengan pecundang. Kamu tahu bahwa sejak kecil, kamu tidak mau kembali ke sini (ingin sukses).”

Sikap demanding ayahnya membuat Steve termotivasi untuk berjuang terus, sampai akhir, sampai ia menjadi pemain football yang hebat.

Sikap demanding ayahnya bisa produktif karena pada saat yang sama ayahnya juga menunjukkan sikap supportive, penuh kehangatan (hadir saat dibutuhkan, meluangkan waktu untuk ngobrol, melakukan kegiatan bersama yang menyenangkan, memuji kerja, mau mendengarkan, dll) dan penghormatan terhadap anak (menghargai hak anak berpendapat, menghargai privasi, memberi kebebasan untuk memutuskan dll.).

Dalam istilah Angela Duckworth, gaya parenting yang demanding dan sekaligus supportive, seperti terlihat pada diagram di atas, adalah wise parenting (pengasuhan yang bijak).

Kalau kita demanding, tapi tidak supportive, maka itu namanya authoritarian parenting. Sikap otoriter kemungkinan besar menghasilkan pemberontakan atau putus asa pada yang didampingi. Kalau kita tidak demanding, tapi hanya supportive, maka itu namanya permissive parenting. Semua keinginan dampingan di-iya-kan saja, tapi itu tidak membawa kebaikan pada dampingan. Yang terakhir adalah sikap tidak demanding, dan juga tidak supportive. Itu namanya pengabaian, neglectful parenting.

Sebagai pendamping, kita bisa belajar dari gaya-gaya parenting ini. Kita perlu bersikap demanding pada dampingan kita, menuntut dampingan bekerja keras untuk apa yang ditujunya. Namun pada satu sisi lain, bersikap supportive.

Kalau pendamping tidak demanding dan juga tidak supportive, maka itu namanya bekerja asal. Atau hanya sekedar mencari penghasilan. Kita tahu, pendamping semacam itu tidak akan kemana-mana.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 106 + 7 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile