Komunikasi lemah yang berpengaruh

21 Agustus 2016 - Posted by admin

Komunikasi lemah yang berpengaruh

Saya pernah mengamati seorang pendamping begitu lihai, menyenangkan dan hidup ketika memberi materi pada kelompok ibu-ibu di kampung. Dengan materi yang sama persis, saya melihatnya gugup luar biasa ketika berdiri di depan staf dan eselon kementerian. Suaranya pelan, banyak lupanya, sehingga sesinya saya amati menjadi kurang menarik.

Padahal materinya sama persis. Yang berbeda adalah khalayaknya.

Ada apa ini?

Saya kerap menjelaskan kasus itu dengan merujuk pada mental mode yang keliru. Kemungkinan besar, kita berhadapan dengan ibu-ibu di kampung si pendamping merasa lebih hebat, pintar dan di atas ibu-ibu. Ini mental mode-nya.

Namun, mental mode yang sama tidak bisa diterapkan pada kelompok staf dan eselon di kementerian. Karena, pada kasus ini, mereka ternyata memiliki pengalaman lebih panjang dan mendalam. Yang terjadi kemudian adalah rasa minder pada diri pendamping.

Situasinya akan berbeda bila mental mode yang terus “dinyalakan” secara konsisten adalah rendah hati (bukan rendah diri). Menyampaikan materi pada siapapun, baik ibu-ibu di kampung atau pejabat akan terasa lebih mudah karena kita tidak dibebani untuk menunjukkan “kehebatan” kita.

Dari sisi “strategi” komunikasi ternyata ada juga penjelasannya, yaitu the power of powerless communication (Adam Grant, 2013). Saat  berhadapan dengan khalayak yang lebih banyak pengalamannya dan skeptis, kadang kita terjebak untuk menyampaikan latar belakang kita yang menunjukkan keunggulan kita. Namun, itu tidak serta merta dimaknai serupa oleh khalayak. Hasilnya acapkali berbalik.

Adam Grant memiliki pengalaman serupa saat di usia 26 tahun harus mengajar para jenderal milliter. Pada saat itu dia memiliki gelar S3 (doktorat) dalam bidang psikologi organisasi. Membuka kelasnya, Grant memanfaatkan strategi powerful communication dengan menceritakan pengalaman dan keahliannya.

Tapi, para peserta yang jauh lebih berpengalaman menolak upayanya. Hasilnya, muncul feedback yang  negatif:” informasi yang berkualitas justru lebih banyak berasal dari khalayak (peserta) dari pada dari podium (pembicara)”; “Instruktur memiliki pengetahuan yang banyak, tapi pengalamannya kurang”; “Kebutuhan khalayak agak kurang terpenuhi”; “Saya memperoleh sedikit dari sesinya”.

Pada kesempatan mengajar berikutnya, Grant merubah strateginya. Dia bersikap lebih natural, lebih rentan (dengan memperlihatkan kelemahannya) dan tanpa nada suara yang terdengar dominan. Dia memulai sesinya dengan mengatakan, “Saya tahu apa yang bapak-bapak pikirkan....apa ya yang bisa didapat dari profesor berumur 12 tahun macam saya ini...”

Setelah hening sejenak, kelas menjadi riuh karena seorang peserta bercanda. “Salah, kamu 13 tahun, Prof!”

Menikmati momen itu, Adam Grant kemudian mulai mengajar tanpa berusaha untuk dominan. Di akhir, dia mendapati kertas-kertas feedback yang positif . “Berbicara dengan pengalaman!”; “Menunjukkan usianya, berenerji tinggi, jelas orang yang sukses!”; “Luar biasa!”; “Dia junior, tapi menarik! Sangat enerjetik dan dinamis!”

Strategi yang sama diterapkan dalam sesi-sesi berikutnya dan hasilnya sama, positif.

Banyak studi lain yang mendukung bahwa ternyata, powerless communication, bisa lebih efektif ketimbang powerful communication. Penguasaan materi dan pengalaman tidak perlu disombongkan. Orang lebih menerima bila penyampaikana didasarkan niat tulus berbagi dan kerendahan hati.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org              

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 108 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile