"Memanfaatkan" kemarahan dampingan

03 Agustus 2016 - Posted by admin

"Memanfaatkan" kemarahan dampingan

Bagaimana reaksi Anda sebagai pendamping jika mendapati dampingan (warga, siswa, ibu, atau lainnya) marah pada Anda? Bahkan marah yang sampai menghinda atau memaki?

Pilihan yang mungkin: 1) ikut marah, 2) diam takut atau cuek, 3) bersyukur.

Yang pertama dan yang kedua rasanya sudah biasa. Yang ketiga yang perlu kita latih lebih sering.

Ada satu proses yang mudah diceritakan dan cukup mudah pula dilakukan. Pertama, dalam hati, ucapkan alhamdulillah, puji syukur.

Lho kenapa justru bersyukur?

Alasannya adalah saat mereka menunjukkan kemarahan lewat lisan (kata-kata), maka itu adalah kesempatan untuk lebih memahami dampingan kita, sekaligus kesempatan untuk  membuat komitmen bersama untuk perubahan yang lebih baik.

Jadi, jangan ikut marah bila dampingan mengekspresikan kemarahannya. Apalagi takut sampai tidak bisa berkata apa-apa. Bersyukur dan lihatlah itu sebagai kesempatan baik.

Kedua, bantu dampingan dengan mem-venting atau menyalurkan/ melepas kemarahannya dengan mendengarkan secara aktif.

Dampingan         : “Ini pelatihan ga bener! Sama sekali ga bener! ”

Pendamping        : “...coba pak De ceritakan, apanya yang ga bener, supaya saya paham.”

Dampingan         : “Materinya ga cocok buat kami di lapangan!”

Pendamping        : “Contohnya yang mana...?”

Dampingan         : “Itu untuk apa belajar nyatat-nyatat?.................bla bla

                           bla............”

Pendamping        : “Apalagi?”

Dampingan         : ”Trus, yang ngitung-ngitung juga. Untuk apa? Wong duitnya ga     

                           ada. Sekarang mana duitnya mana?!?......................”

Pendamping        : “Baik, saya mulai paham: nyata dan ngitung. Mana lagi..?”

Dan seterusnya.


Dengan sabar mendengarkan aktif, pendamping pada satu sisi belajar memahami dampingan lebih baik. Dia tahu apa yang menjadi kekhawatiran atau perhatian dampingan. Di sisi lain, pendamping juga belajar lebih baik tentang dirinya sendiri, termasuk persepsi orang terhadap dirinya.

Biasanya, bila pendamping membantu menyalurkan, durasi marah tidak akan lama. Paling lama 3-4 menit.

Lain halnya bila disanggah-sanggah. Berhari-hari pun bisa saja tidak selesai.

Yang ketiga, adalah kesempatan membangun komitmen bersama, bila diperlukan. Pendamping bisa memanfaatkan teknik-teknik dalam kategori pertanyaan pengecualian.

Dampingan         : “Kamu pendamping, paling cuma omdo alias omong doang.

       Habiskan uang rakyat Saja!..............bla...bla...bla................”

Pendamping        : “Pak Bur, saya tidak tahu bagaimana pendamping-pendamping

                           sebelumnya. Tapi, yang jelas saya tidak mau omdo. Karena itu,

                           tolong bilangin saya, saya mesti bagaimana supaya tidak omdo?”

Dampingan         : “Ya, aksinya yang jelas dong!”

Pendamping        : “Baik pak, mau buat aksi atau kegiatan apa?”

Dampingan         : “Jangan omdo! Coba buat pelatihan yang bener buat kita warga

                           RW 7 ini!”

Pendamping        : “Pelatihan? Ok, mau pelatihan apa? Coba kita rembukan”

Kemudian, keluar dan disepakatilah pelatihan membuat pupuk untuk tanaman-tanaman yang tumbuh vertikal.

Kuncinya dilatihan (dunia nyata). Pertama-tama kita mungkin kita akan emosi menghadapi eksrepsi dan kata-kata marah dampingan. Namun, kita perlu melihatnya sebagai kesempatan untuk memahami dan membangun komitmen bersama, bahkan dengan lebih mudah. Kesempatan yang sulit akan peroleh bila dampingan hanya diam saja  memendam  kemarahan. (Risang R www.lapangankecil.org)

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 133 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile