Cakap berkomunikasi low & high context (kedua-duanya)

14 Januari 2016 - Posted by admin

Gaya komunikasi seseorang bisa digolongkan dalam low atau high context. Yang low context dapat dipahami tanpa penafsiran. Kata-kata menunjukkan maksudnya. Orang mudah menangkap maksudnya tanpa mikir panjang. Contohnya, “Ambilkan minuman dingin dong, Kang.”

High context, sebaliknya, tidak bisa dipahami tanpa penafsiran, pengalaman, insting dll. Arti kata- tidak seperti yang terungkap (baik berbentuk lisan maupun tulisan). “Akang, panas banget ya siang ini. Kok, jadi cepat haus, ya” (Si Akang: “Iya, saya juga merasa gitu, Neng”. Si Neng: DALAM HATI wah, ga nangkep euy).

Gaya high atau low context acapkali dikaitkan dengan suku seseorang. Dikatakan, orang-orang Sumatera itu cenderung low context. Katanya, kata-kata itu apa adanya, terbuka, to the point dll.

Sementara, high context dikaitkan dengan suku-suku di Pulau Jawa. Katanya, “Wah, semua itu serba simbolik. Jangan artikan kata-kata seperti yang diungkapkan. Kalau bos bilang, wah, bagus sekali kaos kamu...nah, itu artinya beliin dong satu.”

Perkara benar atau salah penilaian tentang suku itu, gaya komunikasi low dan high context perlu dikuasai oleh semua orang, apalagi pendamping. Kalau tidak, akan muncul hal yang tidak diinginkan.

Ini contoh seorang anak yang tidak berkomunikasi high context, sehingga membuat kesal orang tua.

Anak (setel musik di HP keras-keras) : .........................
Ibu                                               : Nak, ibu lagi sakit kepala nih
Anak                                             : (anak baik) moga-moga lekas sembuh ya, bu
Ibu                                               : Ga tahan ibu, nak
Anak                                             : Sabar ya bu sabar...
Ibu                                               : ........

Ini contoh manajer restoran yang tidak berkomunikasi low context dalam morning briefing, sehingga membuat bingung.

 

Manajer   :

Ibu-bapak, hal yang perlu kita lakukan hari ini adalah 1. Untuk bagian dapur, buatlah pelanggan bahagia dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin, 2. Untuk bagian kasir, dunia bisnis sedang suram. Ibaratkan air yang mengalir di pipa, jangan         sampai air menetes, 3. Untuk kru pelanggan, buat pelanggan silau. Oke?

Tim         : oke (??)

Mengapa kita perlu mampu berkomunikasi, baik secara low maupun high context? Jawaban mudahnya adalah ada orang orang yang cenderung berkomunikasi low context dan ada pula orang yang bergaya high context. Sebagai pendamping (pendamping apapun: pendamping kelompok warga, pendamping murid, pendamping anak, pendamping pemimpin, dll) kita harus mampu berkomunikasi dengan baik dengan semua orang. Namun, jawaban yang paling esensial adalah dalam  berkomunikasi orang pasti menggunakan dua gaya itu. Meski ada orang yang gayanya cenderung low context, pasti ada kesempatan di mana kita tidak bisa ber-low context ria dan kemudian perlu menggunakan high context. Karena tidak semua hal bisa dikomunikasikan secara low context. Demikian juga, tidak semua hal bisa dikomunikasikan secara high context. Karena, context really matters.

Risang Rimbatmaja/ Lapangan Kecil

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 178 + 7 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile