Komunikasi untuk berbagi atau mencari solusi?

07 Oktober 2015 - Posted by admin

Komunikasi untuk berbagi atau mencari solusi?

Orang berkomunikasi dengan motif tertentu. Sebuah teori mengatakan, jika motifnya terpenuhi, maka muncul kepuasan.

Karena itu, dalam berkomunikasi fasilitator harus memahami motif orang.

Motif orang bercerita berbeda-beda. Ada yang mencari solusi. Tapi ada juga yang ingin berbagi (bukan sekedar berbagi, karena berbagi atau curhat merupakan motif penting juga). Atau bisa juga keduanya, dalam pengertian, sebetulnya dia mau berbagi terlebih dahulu dan jika kawannya mendengarkan, dia mungkin terbuka untuk menerima solusi.

Memahami motif menjadi penting bagi fasilitator. Karena, salah dalam merespon bisa menimbulkan ketidaknyamanan. Sebagai contoh, jika orang berbicara dengan tujuan berbagi (curhat) dan bukan mencari solusi, lalu fasilitator justru banyak bertanya untuk menggali solusi, kemungkinan besar kawan kita itu akan bertambah kesal. Berikut contoh-contohnya.

Dampingan         : (Bermaksud berbagi) Dagang sekarang ga tentu ya, mas. Kadang 
                           rame sampai kewalahan. Kadang sepi sampai bengong-bengong
                           aja kitanya.

 

Fasilitator           : Bapak sudah mempelajari kompetitor?

 

Dampingan          : Kayanya sama saja. Kadang pas rame, waduh, badan sampai
                            rontok rasanya. Tapi pemasukan, alhamdulillah, banyak banget.
                            Sampai ngantri panjang, sampai...

Fasilitator           : Untungnya bisa menutupi hari-hari kosongkah?

 

Dampingan          : Bisa, mas. Banyak malah, soalnya kalau pas ngantri itu bisa
                           sampai ujung sana itu, mas. Bisa sampai ke....

 

Fasilitator            : Bapak sudah buat analisis arus keluar masuk kas-nya, ya?

 

Dampingan         : Ya sudah, mas. (Cape deh!)

 


Sebaliknya, bila dampingan bercerita karena ingin mendapat solusi, tapi fasilitatornya malah bertanya menggali untuk berempati, bisa jadi dampingan akan kesal dan memandang fasilitatornya tidak kredibel.

 

Dampingan         : Mas, air dari sumur-sumur yang kita buat itu semakin menyusut.
                          Sebagian malah kering. Pagi-pagi antrian panjang.

 

Fasilitator           : Sepanjang apa antriannya?

 

Dampingan         : Bisa sampai 1 jam baru dapat air.

 

Fasilitator           : Terus, sambil mengantri. Mereka ngapain?

 

Dampingan         : Ya ngantri, ada yang bengong. Ada yang ngobrol.

 

Fasilitator           : Ngobrolin apa?

 

Dampingan          : Ya, mana saya tahu, mas. Jadi air bagaimana ini...? (Kesel)

 

Kedua contoh dialog di atas menunjukkan fasilitator sebagai giat bertanya, namun dalam situasi yang kurang pas. Yang pertama bertanya dalam rangka mendiagnosis bersama-sama, padahal orangnya ingin berbagi dan utamanya, ingin didengarkan. Yang kedua bertanya dalam rangka memahami dan berempati, padahal orangnya ingin “mendiagnosis masalah bersama-sama” untuk mencari jalan keluar. 

Contoh dialog di atas mungkin cukup jelas menunjukkan motif orang (berbagi vs. mencari solusi). Dalam percakapan sehari-hari, bedanya kadangkala sangat tipis.

Lantas, bagaimana caranya agar fasilitator dapat bertanya dengan pas? Tips dari fasilitator senior yang sering saya dapat: jangan berprasangka, buka pikiran, pelajari tema-tema yang muncul, atau dengan kata lain simak baik-baik dan pahami cerita sebelum bertanya.

Risang R

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 132 + 7 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile