Menghadapi Ketidaksantunan

23 Agustus 2015 - Posted by admin

Menghadapi Ketidaksantunan

Tak jarang suatu pertemuan diramaikan partisipan-partisipan yang kurang santun. Ekspresi ketidaksantunan beragam, bisa verbal, seperti penggunaan bahasa yang judgemental, atau nonverbal, seperti membuang muka, menunjuk-nunjuk dll. Kesemuanya bisa memicu ketidaknyamanan atau bahkan konflik, baik di antara partisipan maupun antara partisipan dengan fasilitator.

Lantas apa yang dapat dilakukan fasilitator untuk mengatasi itu?

Pertama, menyiapkan partisipan dalam berkomunikasi. Seperti juga kesehatan, yang paling utama adalah mencegah. Saat sesi awal, fasilitator dapat menekankan pentingnya aturan berbahasa deskriptif dan nonjudgemental. Di sini, fasilitator dapat memberikan contoh.

“Penjualan tim kamu tahun ini jeblok banget!” adalah contoh berpendapat yang judgmental.

“Penjualan tim kamu tahun ini 1000, tahun lalu 2000. Turun 1000 unit” adalah contoh yang lebih deskriptif.

Kedua, menyiapkan partisipan agar  bisa merespon partisipan lain yang kurang santun. Kita tidak selalu bisa mencegah. Meski sudah berulang-ulang menjelaskan, ada saja kemungkinan partisipan berbicara tidak santun. Agar tidak “meledak” dan menjadi konflik yang serius, fasilitator dapat meminta partisipan tidak  memdendam perasaan dan meminta mereka berespon secara nonjudgmental.

Rumusan sederhananya adalah sampaikan secara deskriptif = (perasaan) + (sebab) + (harapan kedepan dan manfaatnya). Seorang kawan pernah mencontohkan di suatu rapat.

“Saya merasa kurang nyaman kalau saya berbicara, sementara itu bapak-ibu membuka notebook dan mata tertuju ke notebook. Boleh saya minta notebook ditutup selagi saya bicara supaya nanti bapak ibu bisa memberi masukan berharga pada saya?”

Ketiga, intervensi langsung. Saat ketidaksantunan muncul, fasilitator dapat langsung melakukan intervensi yang sesuai.

Saat seseorang berbahasa judgemental (yang dapat menyinggung partisipan lain), fasilitator dapat mendorongnya berbahasa deskriptif.

Partisipan            : “Saya melihat bapak Yudi kurang mampu mengelola organisasi”

Fasilitator            : ”Sebelum direspon bapak Yudi, boleh saya bertanya.                 

                            Sisi apa saja yang bapak lihat perlu diperbaiki oleh Pak Yudi?

                             ............................

 Fasilitator            : “Itu sisi-sisi yang perlu diperbaiki. Bagaimana dengan sisi     

                             yang baik, yang perlu dipertahankan. Bisa bapak sebutkan?”  


Bagaimana jika ketidaksantunan terus berulang?

Taktik yang perlu diterapkan tergantung kondisinya. Bila ketidaksantunan bersumber dari “pengkubuan” yang berbeda, maka teknik kerja-kerja kelompok, seperti grouping-regrouping, jigsaw, fishbowl, festival brainstorming atau lainnya bisa diterapkan.

Bila ketidaksantunan bersumber dari individu-individu tertentu, maka intervensi langsung bisa dipertimbangkan.

Fasilitator dapat mempertimbangkan berbagai teknik untuk mengatasi ketidaksantunan. Satu yang jelas tidak boleh dilakukan fasilitator adalah membalas ketidaksantunan dengan ketidaksantunan.

Risang Rimbatmaja

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 111 + 9 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile