Teknik dasar: kapan menggunakan pertanyaan tertutup

17 Agustus 2015 - Posted by admin

Teknik dasar: kapan menggunakan pertanyaan tertutup

Berikut ini adalah contoh pertanyaan tertutup yang sebaiknya kita hindari saat memfasilitasi curah pendapat. “Apakah di antara kita ada yang punya ide bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini?”

Pertanyaan tertutup menyediakan jawaban-jawaban tertentu. Ya-Tidak, Suka-Tidak Suka. Atau dalam contoh di atas, berarti “saya, mba” (artinya: ada) dan diam (artinya: tidak ada).

Dalam contoh di atas, Pertanyaan tertutup sebaiknya dihindari karena 1) pertanyaan tertutup tidak ditujukan untuk mendatangkan keberagaman ide (hanya pilihan jawaban terbatas); namun yang lebih riskan dalam curah pendapat, 2) pertanyaan tertutup memberikan tambahan beban (mental). Sebelum  mengutarakan idenya, orang harus tampil sendiri dan menjawab “saya, mba”. Akibatnya, meski mungkin punya ide, orang lebih nyaman untuk diam.

Karena itu, dari pada bertanya “Apakah di antara kita ada yang punya ide bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini?” lebih baik menyampaikan rumusan pertanyaan curah pendapat sbb, “Coba kita sama-sama pikiran. Berpikir bebas saja. Jangan pikirkan salah atau betul, bagus atau tidak. Itu urusan nanti. Kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?”

Jadi, apakah fasilitator tidak boleh sama sekali menyampaikan pertanyaan tertutup?

Tentu tidak. Pertanyaan tertutup justru dibutuhkan pada saat-saat tertentu.

Salah satu buku favorit saya, The Facilitator Excellence Handbook, karangan Fran Rees (2005) memberikan panduan yang menarik kapan menggunakan pertanyaan tertutup. Berikut penjelasan Fran Rees (dengan sedikit adaptasi).

1.Untuk memastikan pemahaman

“Apakah semuanya sudah paham proses yang akan kita lalui hari ini?”

2.Untuk mendapatkan informasi spesifik tentang proses

“Kira-kira berapa jam yang kita butuhkan untuk menyelesaikan tahap ini?”

3.Untuk memastikan persetujuan

“Apakah semua setuju dengan tiga prioritas ini?”

4.Untuk mendorong pengungkapan sudut pandang yang berbeda

“Apakah ada yang punya pendapat berbeda?”

5.Untuk mengetahui kebutuhan kelompok

“Ibu bapak saya lihat mulai lelah. Apakah kita perlu rehat dulu?”

6.Untuk memperoleh dukungan terkait dengan tujuan pertemuan

“Apakah tujuan-tujuan ini pas untuk pertemuan hari ini?”

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 173 + 3 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile