Aspek nonverbal dalam paraphrasing

14 Juni 2015 - Posted by admin

Aspek nonverbal dalam paraphrasing

Pada dasarnya paraphrasing adalah menyampaikan kembali pendapat seseorang secara lebih ringkas untuk kemudian dimintakan konfirmasinya. Paraphrasing adalah teknik yang sederhana namun efektif untuk menunjukkan apresiasi dan untuk menguatkan pembelajaran bersama. Berikut contohnya.

Ibu Aminah    : Menurut saya, ibu-ibu yang punya anak balita itu mesti rajin ke Posyandu. Hanya sebulan sekali, memang. Tapi kita bisa tahu, apakah kita kasih makan anak sudah betul     atau tidak. Kan ketahuan dari timbangan. Kalau salah makannya,   kita bisa segera tahu. Ibu kader atau ibu bidan bisa kasih nasehat…hmm, petunjuk, apa yang mesti kita lakukan.

Fasilitator      : Oh, jadi, menurut Ibu Aminah, ibu yang punya balita harus rajin ke Posyandu agar bisa tahu, ibu kasih makan anaknya betul atau tidak. Kalau belum betul, kader atau bidan akan kasih tahu. Begitu ya, bu?

Ibu Aminah     : Betul itu Ibu Siti……(Ibu Aminah akan merasa bangga, wah pendapatnya didengar pendamping)

Sebagian orang memandang paraphrasing adalah masalah menangkap dan mengolah kata (verbal). Itu betul, tapi tidak sepenuhnya betul.

Kalau kita hanya menggunakan kecakapan verbal dan melupakan aspek nonverbal dari komunikasi (mata, mulut, wajah, gerak tangan, intonasi, kecepatan, kekerasan suara dan lainnya), maka paraphrasing menjadi kurang efektif untuk menunjukkan apresiasi fasilitator ataupun untuk proses belajar bersama.

Bayangkan jika fasilitator melakukan paraphrasing dengan pilihan kalimat yang akurat, tapi sambil melihat ke catatan dan dengan nada datar pula (padahal si Ibu berbicara dengan semangat meluap-luap). Kemungkinan besar kita akan mendapati Si Pembicara, yang sudah berbicara penuh semangat, kecewa atau mengendur motivasinya.

Bagaimana bentuk nonverbal yang bisa menguatkan paraphrasing? Berikut adalah beberapa contoh. 

1.  Lakukan kontak mata dengan pembicara, hidupkan wajah, mengangguk, gunakan tangan seperlunya saat menyampaikan kalimat-kalimat awal.

2.  Sampaikan kalimat selanjutnya dengan melakukan kontak mata dengan partisipan lain, juga tambahkan aspek nonverbal lainnya. Tujuannya adalah agar cerita atau pendapat pembicara menyebar ke partisipan lain.

3.  Kembalikan kontak mata dan aspek nonverbal lainnya pada Si Pembicara saat meminta konfirmasi (Betul begitu ya, bu?) Lanjutkan sampai Si Pembicara mengonfirmasi.

 

Bahkan, dalam kegiatan belajar bersama anak-anak, paraphrase bisa dibantu dengan nonverbal berbentuk gerak fisik yang menyerupai ide yang disampaikan anak.

Budi     : Bu Guru, supaya sehat dan bisa membela diri, bagaimana kalau kita latihan Pencak Silat saja. Belajar pukul dan nendang, begitu bu

Guru     : Oh, jadi, menurut Budi, kita latihan silat saja ya (SAMBIL BERSILAT), supaya sehat dan bisa menjaga diri, ya?

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 103 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile