Mengatasi Representasi Palsu

05 Juni 2015 - Posted by admin

Mengatasi Representasi Palsu

Tak jarang fasilitator mendapati orang yang awal-awal bicara menggunakan “kami” sebagai kata ganti penujuk. “Kami di sini menilai cara pemerintah melatih masyarakat sudah cukup bagus, karena...bla...bla...bla.”

Jika kata kami itu sama dengan kata “saya sendiri” dan orang-orang paham akan itu, maka tidak menjadi soal.

Yang dapat menghambat munculnya keragaman ide adalah jika kata kami itu dimaksudkan untuk mewakili mereka yang hadir. Ini kadang diucapkan oleh pemimpin masyarakat atau malah, orang yang “sok” mewakili masyarakat atau merasa pendapatnya mewakili masyarakat.

Lantas bagaiman fasilitator mesti menyiasati ini?

Berikut pengalaman saya (yang sifatnya mungkin kontekstual, karenanya, mesti cermat mengaplikasikannya di situasi berbeda).

Pertama, dengarkan secara aktif sambil membingkai ulang sumber pendapat menjadi pendapat pribadi. “Menurut Ibu Imah sendiri, bagusnya itu di mana ya? Apa yang bagus menurut Ibu Imah?”. Cara ini perlu dilakukan untuk memperhalus proses bingkai ulang (ingat mendengarkan aktif itu sama dengan menghargai).

Terkadang, si pembicara mengikuti proses yang sedang dibangun. “Iya, menurut saya, pelatihannya itu bagus karena waktunya panjang, 4 jam sehari selama 7 hari berturut-turut. Lalu, saya melihat pelatihnya paham betul tentang apa yang diajarkan...”

Tapi, adakalanya, si pembicara masih mencoba berusaha “mewakili” orang-orang. “Menurut kami semua di sini, pelatihannya itu bagus karena waktunya panjang....”

Bila bertemu kasus di atas, saya biasa melakukan cara kedua, paraphrasing dengan tetap berusaha membingkai ulang pendapat menjadi pendapat pribadi.

“Oh, jadi menurut Bu Imah,....bu Imah menilai pelatihannya bagus karena waktunya panjang, 4 jam sehari selama 7 hari berturut-turut? Begitu ya, bu Imah.” Lalu bisa langsung dilanjutkan, “Nah, itu dari Ibu Imah, kalau ibu-bapak yang lain bagaimana. Apa bagusnya pelatihan itu...?”

Biasanya, setelah itu pendapat beragam akan muncul. Tapi itu baru dari satu sisi, yakni pendapat positif.

Hemat saya, jangan buru-buru mencari pendapat negatif, apalagi bila “orang yang merasa mewakili” itu betul-betul memiliki posisi yang cukup kuat (semisal tokoh masyarakat atau agama). Kumpulkan saja pendapat yang sejalan.

Dalam kasus di atas, setelah mengumpulkan banyak pendapat positif (tentang bagusnya pelatihan), maka kita kemudian bisa menggali sisi distortion atau sisi lain. “Tadi ibu-bapak sudah banyak berpendapat tentang hal yang bagusnya. Nah, lazimnya, semua pekerjaan yang dikerjakan manusia, maka ada bagusnya dan ada juga yang tidak bagusnya. Boleh ibu-bapak menceritakan hal-hal yang menurut Ibu-Bapak kurang bagus?” (perhatikan kalimat: lazimnya, semua pekerjaan yang dikerjakan manusia. Ini adalah cara memaksa gaya deduktif agar orang melihat sisi lain. Boleh digunakan tapi jangan sering).

Dalam praktiknya, mesti sudah berusaha membingkai ulang sumber pendapat, tidak jarang dijumpai orang yang berontak, tetap menujukkan keterwakilan pendapat dia. “Oh, itu bukan hanya pendapat saya saja, tapi semua di sini juga berpendapat demikian.”

Menghadapi itu, saya biasanya melakukan paraphrasing untuk idenya, tapi, menyembunyikan sumber pendapat. “ Oh begitu, jadi pelatihannya bagus karena.....(tanpa menyebut sumber).” Sambil itu, saya mempertimbangkan dua hal 1) lihat bagaimana wajah orang-orang lain terhadap paraphrase saya, apakah tampak ada yang ingin berpendapat? 2) bagaimana posisi orang itu dalam komunitas, apakah pimpinan yang dihargai warga atau warga  yang merasa mewakili warga lain?

Sebelum mengambil langkah selanjutnya, ingat prinsip saving face itu penting. Jangan pernah membuat malu orang dalam kerja fasilitasi (meski orang itu berupaya mempermalukan kita).

Ketika ada orang lain yang berbeda, maka perlakukan pendapat itu tidak sebagai yang lebih baik atau lebih akurat. Tapi, akui bahwa berbagai pendapat itu sah karena pengalaman atau cara pandangnya masing-masing.

Bila tidak ada yang berpendapat berbeda, jangan meng-introduce pendapat berbeda yang mungkin menyinggung kesahihan pendapat sebelumnya. Ajak saja warga membuat kelompok dengan jumlah yang cukup untuk dapat memunculkan keragaman ide.

Sekedar berbagi pengalaman. Moga-moga berguna.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 102 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile