Memfasilitasi Negosiasi

30 Maret 2015 - Posted by admin

Memfasilitasi Negosiasi

Tidak jarang dua pihak yang berdialog memiliki dua posisi yang berbeda. Si A menghendaki X, sementara, Si B menuntut Y.  Untuk mencapai win-win solution seorang fasilitator dapat membantu pihak-pihak yang bertikai merumuskan jalan keluar alternatif.

Salah satu buku yang menyinggung win-win solution adalah Karya Lewicki dkk (1999) di mana dia memaparkan 5 model jalan keluar alternatif yang masing-masing digali dengan pertanyaan-pertanyaan berbeda.

Untuk membahas 5 model itu, Lewicki dkk bercerita tentang suami istri yang memiliki posisi yang berbeda untuk destinasi liburan. Sang Suami ingin menghabiskan dua minggu liburan ke pegunungan. Sementara, Sang Istri ingin berlibur ke pantai. Berikut adaptasi dari paparan Lewicki dkk.

Expanding the pie. Model “membesarkan kue” hanya dimungkinkan bila sumber daya yang dimiliki cukup leluasa untuk memenuhi tuntutan dua belah pihak. Menyambung cerita suami istri yang bertikai mengenai tempat liburan, fasilitator perlu menanyakan terlebih dulu, apakah ada keterbatasan uang, waktu atau lainnya? Bila cukup leluasa, maka fasilitator cukup mengusulkan agar kedua tuntutan dipenuhi, semisal bergantian. Dua minggu ke pantai, dua minggu kemudian ke gunung.

Dalam praktiknya, expanding the pie tidak mudah dipraktikkan. Entah karena sumber daya terbatas, ataupun penolakan untuk memenuhi tuntutan lawan.

Logrolling. Model ini seperti transaksi dalam politik di mana mesti ada lebih dari dua isu yang dibicarakan. Satu pihak bisa memutuskan mendukung satu tuntutan yang pihak lain. Dengan catatan pihak lain juga akan mendukung tuntutannya.

Untuk model ini Lewicki dll tidak memberi ilustrasi, tapi kurang lebih dalam cerita suami istri di atas fasilitator perlu mengajak dua pihak itu untuk mengemukakan isu lain yang penting dan kerap menjadi pertikaian. Semisal, Si Istri selama ini setiap minggu datang ke Panti Asuhan untuk mengajar bahasa Inggris selama 4 jam, tapi suami tidak mendukung (tidak mau ikut mengajar). Nah, di sini fasilitator dapat menawarkan Si Istri untuk melepaskan keinginan ke pantai dan ikut ke daerah pegunungan bersama suami, dengan catatan Si Suami bersedia ikut mengajar bahasa Inggris setiap minggu di panti asuhan.

Nonspecific Compensation. Model ini memenangkan satu pihak sementara pihak lain diberi kompensasi yang disetujui bersama. Di sini fasilitator dapat bertanya pada satu pihak terlebih dahulu apa yang bisa diberikan pihak lain sebagai kompensasi mengikuti keinginannya? Semisal, Si Istri menawarkan pada Si Suami kamera DSLR baru atau lainnya bila dia mengikutinya ke pantai.

Cost Cutting. Tiga model pertama di atas tidak menuntut fasilitator menggali lebih dalam dari pada sekedar posisi masing-masing pihak (Posisi: Si Suami ingin ke gunung, Si Istri ingin ke pantai). Sementara, model Cost Cutting melibatkan aplikasi berbagai teknik fasilitasi, termasuk mendengar fasilitatif. Fasilitator harus membawa kedua pihak untuk saling mengenal interest atau need, dan bukan sekedar posisi.

Setelah berbincang, ternyata Si Suami ingin ke gunung karena suka ketenangan dan dia tidak suka tempat yang padat ramai. Sementara, Si Istri ingin ke pantai karena suka kegiatan-kegiatannya, seperti olah raga, jalan-jalan, dan makan-makannya.

Setelah memahami interest, fasilitator bisa menawarkan rumusan yang mengurangi cost (kesengsaraan, ketidaksukaan, dll – hal negatif) di satu pihak. Semisal, bagaimana kalau liburannya ke pantai, tapi tinggalnya di hotel yang pantainya tidak ramai dikunjungi orang, semacam pantai eksklusif milik hotel? Sehingga, hal yang tidak disukai Si Suami (hal negatif) tidak akan ditemui pantai itu.

Bridging. Model ini juga menuntut fasilitator menggali lebih dalam interest masing-masing pihak dan kemudian menawarkan rumusan yang terpadu yang memuaskan keinginan dua belah pihak. Berbeda dengan cost cutting, yang mengurangi cost (ketidaksukaan atau hal negatif lainnya), bridging dapat membuat kedua pihak sama-sama  puas (positif bagi keduanya).

Semisal, setelah berbincang, ternyata Si Suami ingin ke gunung karena ingin berburu. Sementara, Si Istri ingin ke pantai karena di satu sisi dia ingin makan enak, tapi di sisi lain dia tidak ingin gemuk. Karena itu, selama liburan dia ingin banyak bergerak - berolahraga.

Setelah saling memahami, fasilitator dapat mengajak kedua pihak menemukan tempat yang cocok untuk memenuhi dua keinginan itu. Kedua pihak kemudian bisa menemukan tempat yang memenuhi keinginan kedua belah pihak.

Risang Rimbatmaja

www.lapangankecil.org

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 181 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile