When it’s over, it’s over

03 Juni 2012 - Posted by admin

When it’s over, it’s over

Seorang kawan trainer mengeluhkan sessi yang dia alami. “Orang-orang itu sebetulnya tidak membutuhkan training ini. Mereka sekedar ikut saja. Dan parahnya, mereka menguji saya,” keluhnya. “Ini membuat saya tidak nyaman. Sampai berhari-hari masih teringat dan menganggu pikiran,” imbuhnya.

 

When it’s over, it’s over. Ini adalah salah satu prinsip penting fasilitator OST (Open Space Technology). Maksudnya, kalau sudah selesai, ya sudah selesai. Tidak perlu dipikirkan lagi. Tinggalkan emosi kita di ruangan. Jangan dibawa ke rumah apalagi ke keluarga. Ini lebih baik bagi kesehatan mental fasilitator dan juga untuk menjaga profesionalisme.

 

Kami sendiri tidak belajar prinsip ini dari konsep OST, tapi pembelajaran di lapangan menuntut kami mengikuti hal ini. Bayangkan bila kita mesti memfasilitasi sebanyak 3 – 5 kelompok diskusi setiap hari. Kalau proses fasilitasinya menyenangkan, tentu sampai malam dan keesokan paginya kita akan merasa senang. Tapi, kalau proses fasilitasinya kurang mulus, penuh tonjokkan sana sini, maka ini bisa mengalami “memar-memar”. Tapi, apa “memar-memar” itu mesti dipelihara?

 

Bayangkan kalau kita punya banyak sessi yang mesti dikelola. Kalau event pertama saja membuat kita tidak nyaman, dan kalau ketidaknyamanan itu dipelihara, kemungkinan besar dampaknya akan menimpa event berikutnya. Lebih parah kalau kita membawa suasana emosi yang buruk itu ke keluarga. Tentu ini tidak adil. Kita mesti segera melepaskan diri!

 

Sebetulnya, lama waktu yang diperlukan untuk melepaskan “memar” emosi adalah  sekitar sepuluh menit. Di sini kita tidak melupakan pembelajaran proses fasilitasi, tapi melepas muatan asoek emosionalnya saja, sehingga kita bisa kembali fokus pada kegiatan berikutnya. Begini cara yang biasa kami ikuti:

 

·    Bila kita merasakan ada “memar-memar” akibat “tonjokan-tonjokan” selama proses fasilitasi, jangan abaikan. Diam sejenak, rasakan kembali memar itu secara cepat dan beri nama apa perasaan kita. Ini sifatnya sangat subjektif, semisal saya kesal, malu, marah atau lainnya. 

 

·    Setelah itu, kita coba gambarkan bagaimana perilaku yang “menonjok” itu. Semisal, si A berdiri tiba-tiba, menunjuk-nunjuk dengan suara keras. Buat deskripsi yang netral, dia berdiri, menunjuk-nunjuk, suara keras. Tanggalkan hal yang subjektif atau judgmental seperti: dia marah, dia menghina, dia mengusir dll. Pikirkan sedeskriptif mungkin.

 

·    Sekarang, coba cari cara untuk menghilangkan/ mengurangi tekanan subjektivitas kita (saya kesal, malu, marah atau lainnya) dengan lebih memperhatikan deskripsi kejadian. Semisal, pikirkan bahwa: “Iya betul, dia saya lihat memang berperilaku seperti itu berdiri, telunjukknya mengarah pada saya dan bersuara lebih keras dari kebanyakan orang.” Pikirkan bahwa hanya itu saja yang dia lakukan. Hanya itu dan so what? (Secara implisit ini mengatakan dalam hati, dia hanya berperilaku begitu dan tidak ada urusannya dengan perasaan subjektif saya, yakni perasaan memarahi saya, menghina atau lainnya, alias itu hanya perasaan saja dan untuk apa diteruskan?).

 

·    Kalau pun si orang itu mengatakan secara eksplisit, Pergi sana! Terhina kau! Selalu ingat prinsip di atas. Rasakan, beri nama perasaan subjektif itu. Lalu, ingat secara deskriptif, semisal dia mengatakan “pergi sana!” dengan suara yang lebih keras dari kebanyakan orang, lalu, so what?

 

 

Kami sendiri di tahun 2003 pernah mengalami sendiri, diusir dari sebuah forum dialog (ketika itu kebetulan kami membawa pesan lembaga pembangunan internasional tentang cuci tangan pakai sabun, yang dianggap melecehkan agenda kawan-kawan LSM yang berminat di bidang kesehatan). Tapi setelah pergi dari ruangan, kita bergabung lagi di waktu makan siang. Sebagian partisipan saat itu meminta maaf, katanya ini bukan personal lho. Ya, kami rasa memang bukan masalah personal dan buat kami waktu itu, menyantap makan siang di hotel lebih bagus ketimbang memperbincangkan apa yang tadi terjadi. Yang sudah selesai, ya selesai saja. Titik. (Risang Rimbatmaja)

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 109 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile