Mendengarkan dan Menghargai Cerita Anak

09 Februari 2015 - Posted by admin

Mendengarkan dan Menghargai Cerita Anak

Bagaimana reaksi orang tua saat anak kecilnya berujar, “Pah, Aji ga suka sekolah. Aji ga mau sekolah lagi ya.”

Kaget? Merasa pikiran anaknya aneh, kesal atau bahkan sampai tersulut marah? Umumnya begitu.

Tidak jarang orang tua kemudian melontarkan pendapat yang dianggapnya benar atau dianggap secara umum benar, seperti “Tidak boleh begitu, nak! Sekolah itu wajib! Supaya kamu nanti bla bla bla...mau jadi apa...bla bla bla.”

Padahal, pernyataan “Pah, Aji ga suka sekolah. Aji ga mau sekolah lagi ya” atau pernyataan lain yang  mirip kerapkali merupakan tanda anak sedang menghadapi persoalan tertentu. Anak umumnya belum dapat berpikir strategis untuk keluar dari persoalannya dan terkadang memilih langkah ekstrim. Terkadang anak merasa malu mengungkapkan kondisi yang dia hadapi.

Ungkapan anak itu adalah tanda bagi orang tua untuk mendengarkan anak, memahami perasaan dan inti persoalan yang dihadapinya. Di sini teknik-teknik mendengarkan fasilitatif menjadi penting diterapkan.

Dalam suatu sesi belajar seni dan teknik fasilitasi, yang pesertanya kebanyakan orang tua, terungkap beberapa pengalaman mencengangkan.

Anak tidak suka sekolah bisa saja terjadi karena di sekolah dia di-bully oleh rekan/ kakak kelasnya. Orang tua yang tidak mau mendengarkan biasanya malah memarahi dan memaksa anaknya pergi ke sekolah.

Kembali bersekolah, anak itu kemudian di-bully lagi, bahkan tidak jarang berbentuk fisik yang keterlaluan, semisal pemukulan, pengeroyokan.

Praktik bully terungkap ketika anak sudah babak belur, sakit, atau bahkan terenggut nyawanya. Waktu itu orang tua hanya bisa mengatakan “Anak saya ga pernah cerita apa-apa kalau dia ada masalah di sekolah.”

Anak enggan bercerita karena dia merasa orang tua tak mau mendengarkan dan menghargai cerita nya. Mungkin dia juga merasa malu menceritakan “kelemahannya” ke orang tua.

Praktik bully dapat diketahui secara lebih dini bila orang tua mau mendengarkan dan menghargai anak bercerita. Saat anak mengatakan “Pah, Aji ga suka sekolah. Aji ga mau sekolah lagi” maka orang tua dapat bertanya untuk menggali yang masih umum (generalization), seperti  ”Apa yang Aji ga suka memangnya?”

Bila memiliki pengalaman yang sama,  orang tua juga bisa menggali dengan membangun cerita bersama. Misalnya, dengan bercerita,

“Papah juga dulu waktu kecil pernah bilang begitu sama kakek. Papah ga suka sekolah. Papah ga mau sekolah lagi.”

“Lalu kakek bilang apa?”

“Kakek tanya, apa sih yang kamu ga suka dari sekolah? Cerita dong..”

“Papah bilang aja papah ga suka....bla..bla...bla...”. “Nah, sekarang, kalau Aji, apa yang ga disuka...?”

Banyak cara untuk mendengarkan dan menghargai cerita anak. Bukan semata-mata penguasaan teknik, yang penting adalah hati yang empatik, sabar, tidak berburuk sangka dan emosi, tentu saja.


Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Komentar

lapangan kecil, 17 Juni 2015 08:52:28
Silahkan, pak Bachtiar...dengan senang hati. Terimakasih.
Bachtiar , 16 Juni 2015 12:31:59
Pak Risang, Mohon Izin sy Mengcopy Berbagai Artikel di Blog ini yg insya Allah Bermanfaat Buat Saya. Makasih
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 184 + 9 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile