Mencegah partisipasi "sekali ini saja"

02 Oktober 2014 - Posted by admin

Mencegah partisipasi "sekali ini saja"

Ini yang pertama dan terakhir kali saja. Sekali ini saja. Atau kata orang Sunda, sakalieun.

Sikap "sekali ini saja" tidak hanya berlaku karena ketipu sewaktu membeli sesuatu (semisal, orang yang digetok harga "selangit" untuk ikan bakar di tempat wisata). Tapi, bisa juga dalam partisipasi di suatu pertemuan atau kerja kelompok.

Alasannya beragam. Bisa karena orang merasa terasing, tidak diberi ruang dan ada yang mendominasi, terlalu banyak berkontribusi (dieksploitasi atau melelahkan), tidak ada hasil yang relevan baginya, dll.

Indikasinya mudah saja. Dalam pertemuan berikutnya, apakah orang yang sama datang, ataukah banyak yang digantikan orang lain? Bila dalam setiap pertemuan, orang-orang kerap berganti, maka mungkin ini indikasi adanya sikap "sekali ini saja".  

Padahal, menurut Hackman (1990), salah satu dimensi dari efektivitas kelompok adalah tingkat di mana proses mengerjakan sesuatu dapat  meningkatkan kemampuan anggota-anggota kelompok bekerjasama sama secara independen di masa datang.

Kalau saat mengerjakan satu pekerjaan saja komitmennya tidak sampai tuntas (sekali ikut pertemuan dan setelah sudah diserahkan pada orang lain), bagaimana kita bisa berharap ada kerjasama berikutnya?

Lantas, bagaimana fasilitator mesti berbuat?

Teori dan pengalaman untuk mencegah sikap "sekali ini saja" cukup beragam. Tapi ada satu yang cukup menarik, mengambil dari budaya Jawa: mangan ora mangan sing penting ngumpul. Orang-orang tidak akan bosan berkumpul jika mereka merasa berada di rumah dan di keluarga. Pendekatan ini didukung oleh berbagai studi, di antaranya Conquergood, 1994; tentang komunikasi dalam "Gang".

Agar orang merasa "di rumah" dan "di keluarga", maka proses yang dibutuhkan terkait dengan aspek relational communication. Di sini fasilitator perlu meningkatkan "hubungan antar-orang" dan tidak membiarkan pertemanan/ persahabatan menjadi proses yang berkembang alami saja.

Namun, kalau orang bersikap "sekali ini saja" lebih karena output-nya dipandang kurang maksimum (antara lain: kurang valid, reliabel, aplikatif, relevan dll), padahal mereka sudah berusaha keras berpikir bersama, maka fasilitator perlu memperbaiki aspek rational communication, semisal metodologi fasilitasinya (metode konvergensi/ pemilihan/ prioritasi ide dll.).

Dua aspek itu jelas tidak berdiri sendiri, alias saling berpengaruh. Karena itu, fasilitator perlu seksama mencermati situasi.

 

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 197 + 2 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile