Fokus atau Nikmati?

18 Agustus 2014 - Posted by admin

Fokus atau Nikmati?

Apa yang perlu dilakukan fasilitator saat ingin mengembangkan percakapan, fokus atau nikmati?

 

Fokus artinya memperhatikan secara cermat kata-kata atau kalimat-kalimat  yang diproduksi kelompok, juga bahasa nonverbal, lalu menganalisis cepat dan kemudian melemparkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengembangkan lebih lanjut percakapan.

 

Menikmati maksudnya meresapi cerita pembicara, membayangkannya, berupaya berposisi seperti pembicara, merasakan dan mengikuti emosi maupun bahasa verbal dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan pendek, saking pendeknya sehingga mungkin tidak dianggap sebagai pertanyaan oleh pembicara, tapi lebih sebagai bentuk keinginan tahuan yang tinggi.

 

Mana yang mesti dipilih?

 

Sayangnya, menjawab pertanyaan itu tidak mudah. Fokus atau menikmati bukan hanya perbedaan sikap atau perilaku. Tapi lebih jauh, dua hal itu berpijak pada paradigma yang berbeda.

 

Saat menekankan untuk fokus, fasilitator cenderung membuat jarak: antara yang mendengarkan/ mencermati dan yang berbicara. Dia juga siap menerapkan kerangka analisisnya. Dengan menjaga jarak, fasilitator dapat mencermati lebih objektif, sehingga bisa mengelola proses lebih akurat dan menghasilkan output yang lebih berkualitas.

 

Di lain pihak, saat ingin menikmati, fasilitator justru mengurangi jarak, berempati atau menghilangkan identitas sebagai fasilitator. Di sini, seorang fasilitator perlu memahami situasi lebih "asli" dan bisa masuk ke dalam relung hati/pikiran pembicara dan kemudian melihat situasi seperti sebagaimana pembicara melihat.

 

Kalau sudah urusan paradigma, tidak ada yang salah atau benar. Ini persoalan world view yang bukan untuk dikompetisikan.

 

Namun, baiknya fasilitator juga menyesuaikan kerangka kerja fasilitasi dengan paradigmanya. Kalau memilih pendekatan apresiatif, mementingkan relations, maka yang menikmati rasanya lebih tepat.

 

Atau, ada juga fasilitator yang memilih jalan tengah, mengombinasikan dua hal itu pada waktu-waktu yang tepat. Bagi para fundamentalis, bersikap pilah pilih tentu tidak dibenarkan.  Untungnya sebagian besar fasilitator bukan fundamentalis ya.

 

Risang Rimbatmaja

www.lapangankecil.org

 

 

 

Komentar

Edwar fitri, 19 Agustus 2014 21:28:19
Hai lapangan kecil, saya cenderung memulai dengan menikmati dan secara berlahan/bertahap fokus pada pesan atau makna yang dikemukakan untuk dikembangkan menjadi pembelajaran.

Akur,saya kira tak ada fundamentalis di lapangan kecil kita
afrinaldi, 19 Agustus 2014 05:35:56
sangat menarik, tentang teknik mana yang dipilih, akan sangat tergantung pada hasil seperti apa yang diinginkan oleh fasilitator, tapi lebih menarik kalau saya diikutkan dalam aktivitas pelatihan pengembangan diri ini....
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 187 + 4 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile