Memisahkan orang dan idenya

11 Agustus 2014 - Posted by admin

Memisahkan orang dan idenya

Ada orang yang melihat pendapat dari orangnya. Ada pula orang yang melihat pendapat tanpa melihat orang yang mengutarakannya.

Pakar komunikasi antarpribadi umumnya menempatkan orang Indonesia pada kelompok pertama, orang yang melihat pendapat dari orangnya. Kalau orangnya dia sukai, pendapatnya lebih memiliki peluang untuk disukai. Kalau orangnya dia benci, pendapatnya cenderung ditolak.

Karenanya, hubungan/ relasi menjadi penting dan berkomunikasi.

Sebagai seorang fasilitator atau mungkin orang yang bijak pada umumnya, memisahkan ide dari orangnya dipandang lebih baik. Bagaimanapun, orang yang tidak kita sukai bisa saja mengutarakan ide-ide yang baik, yang bermanfaat.

Kemarahan atau ketidaksukaan sebaiknya tidak mempengaruhi penilaian terhadap pendapat atau ide. Terlebih lagi bila yang dimaskud adalah orang-orang terdekat, seperti istri, anak atau sahabat. Jangan sampai karena marah yang sesaat, hilang kesempatan untuk mendapatkan ide yang baik.

Fasilitator perlu mengesampingkan perasaan ketika memandang ide/ pendapat orang. Selain itu, dia juga perlu mengajarkan orang lain (orang terdekat, warga atau anggota kelompok) untuk bersikap sama.

Salah satu teknik yang mudah dengan memiliki kerangka pikir curah pendapat dua sisi. Maksudnya, pada saat orang yang tidak disukai berpendapat, segera pikirkan dua sisi: yang baik dari ide itu, untuk menyimbangkan pencarian yang buruk dari ide itu. Kerangka pikir ini mesti "dipaksa" bekerja, agar kita tidak terjebak pada satu sisi (mencari keburukan dari ide ybs).

Semisal kita sedang kecewa terhadap anak. Namun, ketika kita mendengar idenya, maka segera paksa pikiran kita mencari sisi baik dari ide itu, untuk mengimbangi pencarian sisi buruk.

Teknik curah pendapat dua sisi hanyalah teknik untuk memahami satu ide secara lebih seimbang atau, istilah banyak orang, lebih objektif. Tentu saja, ketimbang mengaplikasikan teknik itu, lebih baik kita tidak bersikap marah atau kecewa. Risang Rimbatmaja | www.lapangankecil.org

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 163 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile