Facilitative parenting: Redirecting

19 Juli 2014 - Posted by admin

Facilitative parenting: Redirecting

 

Seorang kawan berpendapat bahwa saat "menangani" kemauan anak, yang jelas-jelas tidak tepat dan perlu diluruskan, mendengarkan secara aktif merupakan proses yang bertele-tele dan bahkan berisiko. Dia memberi ilustrasi.

 

Anak      : Ayah, Umang pengen belajar motor dong.

Ayah      : Belajar motor untuk..? (teknik drawing people out)

Anak      : Untuk ke tempat ngaji, bantu ibu belanja ke warung...

Ayah      : Selain itu? (yang belum terungkap/ deletion)

Anak      : Antar adik ke PAUD. Kan tempatnya  jauh, Pa. Jalan kaki 15 menit...Kasihan adik, Yah.

Ayah      : ....

 

Padahal, Si Ayah sejak  awal berpikiran bahwa anaknya tidak boleh mengendarai motor karena dia baru 11 tahun dan sudah banyak terjadi kecelakan yang melibatkan pengendara usia muda di kampungnya. Menurut kawan kami itu, jika Si Ayah terlalu mendengarkan secara aktif, dia akan  memperoleh pesan-pesan positif yang justru menjustifikasi keinginan Si Anak. Itu akan membuat ayah kesulitan mengemukakan sikap. Karenanya, Si Ayah mestinya jawab saja: tidak boleh, karena begini begitu!

 

Saat orang tua perlu segera berpihak pada satu pilihan, rasanya, memang kita tidak boleh bersikap bertele-tele. Meski demikian, itu bukan berarti kita tidak bisa bersikap fasilitatif.

 

Redirecting adalah salah satu teknik yang bisa digunakan. Percakapan di atas kemudian kami tawarkan untuk dimodifikasi sebagai berikut.

 

Anak      : Pa, Umang pengen belajar motor dong.

Ayah      : Oh, tidak boleh ya , Umang.

Anak      : Kok ga boleh sih, Yah?

Ayah      : Nah, menurut kamu, kenapa Ayah tidak membolehkan? (redirecting)

Anak      : Usia Umang baru 11 tahun...?

Ayah      : Artinya...? (drawing people out)

Anak      : Belum boleh dapat SIM?

Ayah      : Bener. Terus, apa lagi, kenapa Ayah tidak membolehkan? (yang belum terungkap/ deletion)

....

 

Percakapan di atas sekedar contoh untuk redirecting atau melemparkan pertanyaan kembali ke anak yang bertanya. Namun, setelah redirecting, orang tua tetap harus mendengarkan anaknya baik-baik. Jika tidak, maka redirecting akan terkesan seperti menghakimi atau meremehkan.

 

Moga-moga berguna.

Tags :
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 149 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile