Funnel Questions dan Grand Tour-Mini Tour Questions

02 Juni 2012 - Posted by admin

Funnel Questions dan Grand Tour-Mini Tour Questions

Funnel questions (funnel dalam bahasa Indonesia berarti cerobong atau corong), sebetulnya mirip dengan pertanyaan model grand tour – mini tour. Keduanya dimulai dengan pertanyaan umum yang relatif mudah dijawab. Pertanyaan yang merujuk pada pengalaman inderawi yang baru-baru dialami adalah salah satu yang umum dilontarkan. Seperti, “Penyakit apa yang umumnya dialami anak-anak di sini?”; “Siapa saja yang datang ke acara Ibu?”; “Makanan apa saja yang tersedia di pesta pernikahan kemarin?”

 

 Perbedaannya, ketika sudah mendapatkan tanggapan berupa gambaran umum, grand tour – mini tour menukik pada salah satu atau beberapa jawaban. Semisal, ketika lawan bicara kita menjawab diare, TB, panas, dan pilek (untuk pertanyaan tentang penyakit), maka fasilitator bisa lebih lanjut menanyakan tentang diare. Semisal, “Diare yang seperti apa yang terjadi di sini?” Atau bahkan secara spesifik membuat blok diskusi tentang diare.

 

Dalam intervensi kemasyarakatan, grand tour – mini tour questions biasanya dilakukan untuk memunculkan agenda kelompok warga yang overlapping dengan agenda projek atau pihak eksternal. Bila dilakukan secara mulus, maka kelompok warga akan merasa bahwa diskusi muncul adalah agenda atau kepentingan mereka dan bukan kepentingan fasilitator atau pihak eksternal. Ini berbeda dengan gaya mendikte yang berupaya membawa agenda tertentu untuk didiskusikan warga yang –konsekuensinya-- dapat membuat warga merasa bahwa yang didiskusikan adalah agenda orang di luar mereka.

 

Di lain pihak, funnel questions tidak menukik pada salah satu atau beberapa jawaban, melainkan berupaya untuk mendeskripsi lebih lanjut semua jawaban yang muncul. Funnel questions dimulai dengan pertanyaan umum yang tertutup, lalu penanya bertanya lebih lanjut pada setiap jawaban yang diperoleh. “Ada berapa kegiatan yang utamanya dilakukan di Posyandu ini?”; “Oh, jumantik? Seperti apa kegiatannya?; “Tabulin? Apa itu? Seperti apa?” dan sebagainya sampai penanya memiliki gambaran seperti gambaran yang sehidup mungkin tentang suatu topik.

 

Funnel questions tidak ditujukan untuk mengintroduksi topik yang overlapping dengan agenda penanya, tapi justru ingin menjelajahi pengalaman lawan bicara. Di atas kertas, bila dilakukan dengan teknik mendengar aktif  yang empatik, funnel questions dapat mendekatkan kita dengan lawan bicara, meningkatkan kepercayaan dirinya dan bahkan dapat meredekan emosi lawan bicara.

 

Meredakan emosi lawan bicara?

 

Iya ini dimungkinkan karena ketika kita mengajak lawan bicara membicarakan masalahnya secara deskriptif dan detail, bukan hanya kita menunjukkan sikap menghargai, namun juga dalam proses mendeskripsikan, kita membantu lawan bicara melepaskan emosi (dari detail deskripsi fakta). Selain itu, memperoleh detail memungkinkan pendengar menawarkan solusi-solusi yang lebih mengena.

 

Risang Rimbatmaja dari berbagai sumber di antaranya Mindtools (Funnel Questions) dan Sayre (2001)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 166 + 3 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile