Bahasan Komunikasi Non-Verbal: Bersalaman

10 Januari 2014 - Posted by admin

 

Rentang bahasan komunikasi verbal cukup luas dan fasilitator sebaiknya memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mempraktikkannya dalam konteks yang tepat. Salah satu contoh adalah praktik bersalaman. Bila kurang dipahami, praktik bersalaman saja kadang menimbulkan ketegangan, kekurangpercayaan atau ketersinggungan.

 

Karena keyakinan relijius, yang tentu mesti dihargai, ada warga yang tidak mau bersalaman dengan lawan jenis. Dalam pengamatan kami, sebagian fasilitator juga terlihat memegang keyakinan seperti itu.

 

Prinsipnya adalah 1) bagi fasilitator yang memegang keyakinan itu, hindari mempermalukan orang, 2) bagi fasilitator yang tidak memegang keyakinan itu, jangan dipermalukan orang.

 

Fasilitator akan mempermalukan orang bila ada orang menyodorkan tangannya lalu dia menghindar tidak mau bersalaman, membiarkan orang malu karena tangan terlanjur terjulur. Sebaliknya, fasilitator mungkin merasa “dipermalukan” bila menyodorkan tangannya pada seseorang, tapi sejurus kemudian, yang bersangkutan menolaknya.

 

Kunci menghindari dari mempermalukan atau dipermalukan sebetulnya mudah. Bila tidak mau mempermalukan orang, beri tanda terlebih dahulu. Jangan sampai orang menyongsongkan tangan kemudian Anda ditolak. Beri tanda non-verbal duluan yang memberitahu orang bahwa Anda tidak ingin disalami.

 

Sementara, untuk menghindari dipermalukan orang (yang tidak mau bersalaman), jangan menjulurkan tangan secara penuh. Kalau ragu-ragu, siapkan untuk “mengeles” menjadi salaman tanpa menyentuh.

 

Sederhana saja. Tapi fasilitator mesti tahu dan siap-siap karena moment-nya bisa tidak terduga.

Tags :
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 195 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile