Mulai dengan pertanyaan yang mudah

25 Desember 2013 - Posted by admin

Dalam memfasilitasi diskusi ibu-ibu di kampung, mulailah dengan pertanyaan yang mudah ditanggapi oleh partisipan. Pertanyaan yang mudah ditanggapi partisipan tanpa harus berpikir panjang. Memulai dengan pertanyaaan yang mudah nantinya akan membangun keberanian ibu-ibu untuk berpendapat secara bertanggung jawab.

 

Fasilitator dapat melempar pertanyaan-pertanyaan tentang pengalaman yang baru-baru saja dialami atau yang menyangkut keseharian ibu-ibu atau pertanyaan pengamatan keseharian. Contoh pertanyaan-pertanyaan itu adalah sbb:

         Boleh cerita, pagi tadi ibu-ibu masak apa ya?

         Biasanya, ibu-ibu di sini belanjanya ke mana ya?

         Sayuran apa saja yang ada di pasar?

         Apa makanan kesukaan anak kita?

 

Yang tergolong pertanyaan sulit dijawab sebaiknya diletakkan belakangan. Ibu-ibu umumnya menjadi mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit ketika ibu-ibu sudah lancar bercerita (sudah panas). Contoh pertanyaan sulit adalah sbb (contoh dari Fakih, dkk; 2001):

         Pertanyaan analisis: Mengapa perbedaan pendapat itu terjadi?

         Pertanyaan hipotetik: Apa yang terjadi jika…?

         Pertanyaan pembanding: Mana yang paling tepat antar….dan…?

         Pertanyaan proyektif: Coba bayangkan seandainya Ibu menghadapi situasi seperti itu, apa yang anda lakukan?

 

Tentu saja, pertanyaan mudah bukan berarti tidak relevan. Pertanyaan yang mudah itu tetap mesti masuk dalam skema pertanyaan yang menjadi topik diskusi.

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 195 + 3 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile