“Memanjangkan” telinga partisipan

23 Oktober 2013 - Posted by admin

“Memanjangkan” telinga partisipan

Ada fasilitator yang hobi pakai mic (microphone), meski partisipannya kurang dari 40 orang. Katanya, supaya suaranya terdengar jelas.

 

Untuk sementara waktu, khususnya di awal percakapan, penggunaan mic memang membantu. Sewaktu kita menjelaskan tujuan dan tahapan pertemuan, suara yang keras dan jelas akan memudahkan partisipan memahami rencana percakapan sehingga dapat lebih mudah mengikuti proses selanjutnya.

 

Namun, pengalaman kami, penggunaan mic yang berlama-lama kerap menghambat partisipasi. Alasannya:

 

Pertama, mic membuat suara menjadi keras dan jelas sehingga kerap membuat partisipan memiliki “telinga yang pendek atau pasif, yakni telinga yang tidak mengeluarkan upaya yang besar untuk menyimak pembicara lebih seksama. Dampaknya teramati saat masuk tahap untuk saling memahami. Tahap itu membutuhkan kemauan semua partisipan untuk saling mendengarkan. Ketika “bertelinga pendek” banyak partisipan yang kemudian enggan menyimak pembicara lain. Akibatnya, tahap saling memahami kerap berjalan kurang mulus.

 

Kedua, penggunaan mic membangun sentralisasi percakapan, khususnya di si Pemegang Mic. Kalau si fasilitator lama memegang mic, maka dia akan menjadi pusat percakapan. Seolah dialah yang membuat dan memiliki percakapan. Padahal, proses fasilitatif menghendaki semua partisipan menjadi pemilik percakapan. Si fasilitator justru tidak boleh terlihat menonjol.

 

Ketiga, tidak semua orang terbiasa memegang mic. Apalagi menggunakannya untuk mengutarakan pendapat. Ini membuat hanya mereka yang berani dan terampil yang berbicara dalam forum.

 

Keempat, mic dan sound system yang kurang bagus menghilangkan sejumlah aspek para-language. Akibatnya suara menjadi datar dan berkesan “instruktif”.  Ketika suara kurang mengandung “sentuhan manusiawi”, interaksi yang terjadi menjadi kaku dan mekanistik. Bagi sebagian orang, situasi ini kurang menyenangkan dan bisa meminggirkan mereka dari lingkar percakapan.

 

Lantas bagaimana bila orang kurang bisa mendengarkan suara kita dengan jelas? Pada batas-batas tertentu kita tidak perlu khawatir. Kadang-kadang kami malah sengaja memelankan suara agar orang-orang “memanjangkan” telinganya. Bila ada yang celetuk. ”Apa yang tadi mas katakan?”, maka kita tinggal mengulanginya dengan volume yang sama pelannya. Tidak perlu berteriak meningkatkan volume suara. Dengan demikian, fasilitator dapat menghemat suara, namun yang lebih penting, partisipan berupaya lebih keras untuk menyimak pembicaraan dan nantinya mereka akan siap untuk saling memahami.

 

 

Risang Rimbatmaja

Tags :
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 103 + 6 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile