Kenapa sebaiknya tidak bertanya kenapa (secara terburu-buru)?

07 Agustus 2013 - Posted by admin

Kenapa sebaiknya tidak bertanya kenapa (secara terburu-buru)?

Anak      : “Pak, raportku ada merahnya…”
Bapak    :…..

 

Kalau kita menjadi Si Bapak, kira-kira bagaimana reaksi kita? Apakah kita mengatakan: “Kenapa bisa begitu?”; “Kok ada merahnya?” Atau malah marah, “Makanya, kamu harus belajar!”

Jika Si Bapak bertanya kenapa untuk mencari penjelasan lebih dalam dari Si Anak, maka informasi didapat mungkin bias.

 

Kenapa/mengapa memang kata tanya. Namun, ketika digunakan pada kondisi yang kurang menyenangkan atau mengecewakan, kata-kata itu akan berkesan menghakimi atau menyalahkan, ketimbang menggali informasi. Singkatnya, demikian hasil berbagai studi komunikasi antarpribadi.

 

Kemudian, yang lumrahnya menjadi reaksi dari orang yang dihakimi atau disalahkan adalah penyangkalan, mengambing-hitamkan orang lain, atau bahkan perasaan tersinggung.

 

Kalau Si Anak ditanya, kenapa raport ada merahnya, maka bisa jadi reaksinya adalah:

“Gurunya ga jelas ngajarinnya, pak”;

“Aku ga dikasih les sih, pak”; atau, “Ga tahu kenapa begitu, aku sudah belajar kok!”

Atau, “[diam, karena kesal]”

 

Selain memberi tekanan mental, pertanyaan kenapa/ mengapa menuntut lawan bicara berpikir lebih keras (menganalisis). Karena itu, pertanyaan kenapa/ mengapa sebaiknya memang jangan dimunculkan di depan, tapi belakangan saja, saat percakapan sudah cukup “panas”.

 

Nah, kalau tidak langsung bertanya kenapa, apa pilihannya?

 

Sebaiknya dengarkan secara aktif terlebih dahulu agar orang senang bercerita  dan merasa dihargai.

 

Menyambung dialog bapak-anak di muka, Si Bapak bisa bertanya.

“Apa saja merahnya?”

Setelah bercerita, Si Bapak bisa bertanya lagi: “Selain merah, ada apa lagi?”

 

Atau gunakan teknik bertanya lainnya.


Setelah anak bercerita lepas tanpa tekanan, barulah kita bisa menggunakan kata kenapa/mengapa untuk menggali informasi. “Tadi itu, olahraga dapat 5, kira-kira kenapa, nak?”


Atau kita juga bisa fokus berapresiasi dan fokus pada solusi.


Bapak    : “Oh, jadi agama dapat 9….hebat kamu, nak. Kok, hebat bisa dapat sembilan?”

Anak      : “Iya, pak…karena aku kan…..bla-bla-bla…”

Bapak    : “Nah agamanya bisa dapat 9. Kalau olah raga mau dapat 9, bagaimana nih caranya?”


Moga-moga bermanfaat. Risang R

 

Tags : kenapa
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 128 + 3 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile