Facilitative Listening

02 Juni 2012 - Posted by admin

Facilitative Listening

Fasilitator biasanya menggunakan istilah facilitative listening ketimbang active listening, meski sejumlah teknik yang digunakan terkesan sama. Perbedaan mendasarnya terletak pada pertanyaan: siapa yang mesti mengambil manfaat dari proses mendengarkan itu. Siapa yang menjadi lebih memahami? Siapa yang semakin dekat hubungannya? Atau, siapa saja yang lebih saling mengerti?

 

Active listening atau mendengarkan aktif atau menyimak berharap agar penanya dan yang ditanya (atau keduanya) mendapat manfaat dalam proses percakapan. Sementara, facilitative listening melihat bahwa manfaat terbanyak mesti didapat anggota kelompok atau partisipan pertemuan, diskusi dialog dll.

 

 

Jadi, meski sepanjang proses percakapan kelompok fasilitator aktif bertanya-tanya, facilitative listening lebih bertujuan agar di antara sesama partisipan muncul pemahaman yang lebih akurat dan mendalam dan komunikasi yang lebih nyaman.

 

 

Fasilitator boleh saja merasa senang bila dengan facilitative listening dia kemudian memiliki pemahaman yang lebih mendalam akan ide-ide yang didiskusikan kelompok atau (ini tipikal), merasa nyaman karena diterima dengan hangat oleh kelompok. Itu hanya satu langkah awal kerja fasilitasi.

 

 

Sam Kaner (2007) melihat facilitative listening diperlukan karena gaya komunikasi masing-masing orang berbeda dan seperti kita ketahui, kerap kali gaya komunikasi itu menjadi pangkal masalah. Ketika gaya komunikasi yang dipertunjukkan seseorang kurang bisa diterima, kerap kali substansi idenya (isi) menjadi ikut-ikutan tidak diterima. Mereka yang mempelajari komunikasi non verbal tahu benar bahwa how you say it speaks louder than what you say.

 

 

Coba ingat-ingat deh. Kalau ada kawan kita melontarkan pendapatnya dengan gaya yang arogan, sombong, sok tahu, maka alih-alih memperhatikan idenya, kita kerap lebih memperhatikan gayanya dan berkata dalam hati, sok tahu luh. Padahal bisa saja idenya itu benar.

 

 

Demikian pula sebaliknya, bila kawan kita menyampaikannya dengan malu-malu, sepotong-sepotong dan terbata-bata, maka alih-alih kita memperhatikan idenya, kita kerap langsung menilai dia memiliki ide yang kurang meyakinkan.

 

 

Nah, salah tugas fasilitator adalah mengurangi pengaruh negatif gaya komunikasi itu agar anggota kelompok lain lebih memperhatikan dan menghargai isi komunikasi. Ada pula fasilitator yang bergerak lebih jauh dengan berusaha mempengaruhi gaya komunikasi. Ada pula yang berusaha agar setiap anggota mampu mendengarkan secara aktif (biasanya ini disebut sebagai proses development facilitation).

 

 

Sebagai contoh saja, ketika seorang partisipan diskusi mengungkap pendapatnya dengan terbata-bata, terpotong-potong, menggantung dan suara lirih, fasilitator bisa menerapkan teknik yang disebut Sam Kanner sebagai drawing people out. Ilustrasi fiksi-nya dapat dilihat dalan dialog sbb.,

 

 

Partisipan A                  : saya senang olahraga

Fasilitator                     : olahraga….?

Partisipan A                  : hmmm…berenang, bu

Fasilitator                     : di..?

Partisipan A                  : hmmm…kali belakang rumah….senang aja, bu

Fasilitator                     : senang karena…..?

Partisipan A                  : badan jadi dingin, bu…

 

 

Agar bisa melakukan facilitative listening fasilitator mesti membedakan antara gaya komunikasi dan isi/ substansi ide. Gaya boleh saja beda-beda. Ada yang menyenangkan, ada pula yang tidak menyenangkan. Tapi, bagi fasilitator, yang penting isinya dulu. (Risang Rimbatmaja/ Lapangan Kecil)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 144 + 5 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile