Fasilitatif di ruang teater?

05 Mei 2013 - Posted by admin

Fasilitatif di ruang teater?

Ruang gaya teater memang didesain agar semua penonton memiliki fokus ke tengah. Dibuat berundak agar pandangan dari baris belakang tidak terhalang oleh barisan depan. Tidak terhalang sehingga semuanya bisa melihat si pusat secara jelas.

 

Semuanya serba ke pusat. Agak sulit mengharapkan interaksi antar-partisipan, kecuali di antara mereka yang duduk bersampingan. Ruang gaya teater jelas bukan ruang yang diharapkan untuk kegiatan penuh partisipasi.

 

Namun kalau ruang semacam itu yang tersedia, fasilitator tentu tidak boleh menyerah.

 

Pengalaman Lapangan Kecil bersama tim PPI Paramadina memfasilitasi workshop di ruang bergaya teater baru-baru ini (30 April 2013) menghasilkan sejumlah catatan pembelajaran (bisa juga dijadikan tips), sbb.

 

  • Tetap berkenalan. Kadang karena keterbatasan ruang, kita berpikir sessi perkenalan boleh dilewatkan. Pengalaman kami, sebaiknya tetap jalankan sessi perkenalan. Dengan ruang terbatas dan kursi-kursi yang tidak bisa berpindah tempat, kesempatan berinteraksi partisipan yang natural justru semakin minim. Karenanya, fasilitator perlu merekayasa interaksi untuk membangun hubungan. Pada acara itu kami menggunakan model pasar profil yang mengharuskan partisipan berjalan ke satu tempat ke tempat lain.
     
  • Tetap bermain. Siapkan sejumlah permainan yang ramai, namun tidak membuat partisipan berpindah tempat.
     
  • Berdiri dan bergerak. Dalam kerja kelompok, hindari interaksi dari tempat duduk. Posisi duduk yang tidak ideal biasanya membuat diskusi kurang bisa diikuti oleh semua anggota kelompok.
     
  • Batasi kegiatan duduk. Fasilitator bisa meminta partisipan untuk duduk dalam kesempatan-kesempatan tertentu, semisal ketika memberikan pengarahan umum, menikmati presentasi kelompok-kelompok.

  • Cepat. Karena diskusi banyak dilakukan sambil berdiri dan bergerak, berikan waktu yang minim agar partisipan berdiskusi dan bergerak secara cepat.
     
  • Selalu check enerji  partisipan. Karena dilakukan secara cepat dan penuh konsentrasi, fasilitator mesti sering-sering memperhatikan kondisi partisipan. Apakah mereka tegang? Kelelahan? Bosen? Atau lainnya.        

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 129 + 5 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile