Menyuluh yang seperti mengobrol

05 November 2013 - Posted by admin

Menyuluh yang seperti mengobrol

Kok, ngobrol berjam-jam bisa tidak terasa ya? Tapi, kalau melakukan penyuluhan, sejam pun bisa berasa sehari. Belum lagi, kalau terlalu lama bicara, hadirin mudah terlihat bosan.

 

Bagi penyuluh, pertanyaannya adalah kenapa ngobrol bisa menyenangkan buat yang terlibat? Pertanyaan yang tidak kalah penting, bagaimana menyuluh bisa seperti mengobrol? Mengasyikkan bagi kedua belah pihak dan tidak terasa membosankan.

 

Salah satu sessi belajar fasilitasi Lapangan Kecil adalah mengobrol. Tapi, bukan sembarang mengobrol. Karena, sessi ini dipraktikkan setelah partisipan belajar mengembangkan iklim komunikasi, membaca tanda-tanda nonverbal, mimicking, mendengarkan/ menyimak, dan bertutur secara imajinatif.

 

Teknik-teknik itu kemudian diterapkan dalam mengobrol. Hasilnya, partisipan asyik mengobrol, bahkan banyak yang mengobrolkan materei-materi penyuluhan, hal-hal teknis yang biasanya membosankan. Bahkan, tidak sedikit partisipan tetap mengobrol melewati waktu sessi.

 

Ringkasnya, menyuluh dapat menyenagkan seperti mengobrol bila prinsip-prinsip mengobrol dipraktikkan.  

 

Mengobrol itu takes turn. Kata orang Jawa, gentenan. Tidak boleh ada yang mendominasi. Bergantian mendengarkan, melempar pertanyaan, menggali, menghargai, dan yang tidak kalah penting saling membangun theatre of mind.

 

Kita semua bisa mengobrol. Jadi, prinsip-prinsip mengobrol di atas tentu bukan hal baru. Aplikasinya mudah saja. Yang menjadi masalah justru karena komunikator suka memandang bahwa posisinya jauh lebih tinggi dari hadirin. Persepsi atau keyakinan demikian tanpa sadar mengubur keterampilan mengobrol.

 

Penyuluhan kemudian terjebak menjadi sessi komunikasi satu arah. Penuh konsep dan bahasa birokratis/ program. Instruktif. Theatre of mind kurang terbangun di kepala hadirin. Dan akibatnya adalah kejenuhan di  kedua belah pihak

 

Agar menyenangkan, penyuluhan tidak boleh seperti sessi briefing di kantor. Penyuluhan mesti lebih seperti menonton wayang, dongeng, atau seperti ngobrol dengan kawan. Teknik mengobrol pasti sudah dimiliki. Penyuluh harus mulai dengan memandang hadirin sebagai kawan, bukan bawahan.

 

Risang Rimbatmaja

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 112 + 1 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile