Bermain sambil melakukan assessment komunikasi

05 November 2013 - Posted by admin

Bermain sambil melakukan assessment komunikasi

Dalam pelatihan-pelatihan komunikasi biasanya penyelenggara melakukan pre-test untuk menilai sejauh mana keterampilan komunikasi partisipan. Mereka meminta partisipan mengisi kuesioner atau check list tentang ini itu dan dengan rekaputulasi yang (mesti) dilakukan cepat, muncullah gambaran partisipan. Hasil itu kemudian menjadi dasar untuk materi pelatihan.

 

Lepas dari kritikan bahwa pre-test model kuesioner itu bersifat “pengetahuan” belaka, kami biasanya mengambil pendekatan lain, yakni melalui observasi pada jam-jam awal workshop. Salah satu yang momen yang strategis adalah saat memainkan permainan-permainan, khususnya yang menuntut partisipan bercerita (atau menyambung cerita) atau bercakap-cakap. Semisal, dalam permainan-permainan “senam sehat” (gerak pinggang yang dituntun oleh cerita), kami memperhatikan bagaimana sifat komunikasi (communication traits) dari partisipan.

 

Dalam konteks fasilitasi kelompok (termasuk dalam kelas belajar), seperti dirangkum (Frey, Gouran dan Poole; 1999) tiga hal dasar perlu diperhatikan,  1) communication apprehension (tingkat sejauh mana partisipan merasa nyaman/ takut berkomunikasi), 2) argumentativeness (sejauh mana kemampuan membuat dan menolak argument), dan 3) verbal aggressiveness (sejauh mana seorang partisipan menyerang konsep diri partisipan lain, ketimbang besifat argumentatif).

 

Ringkasnya, agar komunikasi dalam kelompok bisa berlangsung produktif orang-orang mesti memiliki kenyamanan yang tinggi (atau ketakutan yang rendah), mampu berargumentasi dan tingkat agresivitas verbal-nya rendah.  Dan ini bisa kita ketahui tanpa meminta mereka mengisi kuesioner. Perhatikan saja percakapan mereka, pilihan kata-kata, nada suara, mata, mimik dan komunikasi non verbalnya.

 

Risang Rimbatmaja

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 187 + 3 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile