Kelompok-kelompok kecil meningkatkan partisipasi?

05 November 2013 - Posted by admin

Kelompok-kelompok kecil meningkatkan partisipasi?

Seorang kawan fasilitator selalu mengandalkan pembentukan kelompok-kelompok kecil untuk meningkatkan partisipasi. Menurutnya, partisipan akan sulit berpartisipasi dalam pleno. “Berbicara dalam pleno tekanannya terlalu besar. Di kelompok-kelompok kecil, karena cuma sedikit, partisipan mau tidak mau pasti berpartisipasi,” ujarnya.

 

Teori kawan fasilitator itu bisa jadi betul. Tapi bisa juga meleset.

 

Kalau dalam kelompok kecil ada yang sejumlah partisipan yang terlalu dominan dan fasilitator tidak melakukan apa-apa untuk menetralisirnya, yang terjadi mungkin lebih parah dari yang terjadi di pleno. Dalam kelompok besar (pleno saja) mereka bisa mendominasi, apalagi dalam kelompok-kelompok kecil?

 

Kasusnya mirip perkembangan desentralisasi di negeri ini. Apakah suara rakyat setelah masa desentralisasi lebih terangkat? Apakah justru muncul sebaliknya, dominasi sekelompok kecil saja?

 

Dalam pengalaman Lapangan Kecil, peningkatan partisipasi via diskusi kelompok-kelompok kecil akan efektif bila hal-hal berikut dipertimbangkan.

 

  1. Greasing atau proses melancarkan komunikasi antarpartisipan tetap dipenuhi. Acak posisi duduk dan kemudian bantu partisipan saling mengenal. Bila sama sekali asing, bantu mereka mengenal nama-nama partisipan. Bila nama sudah hapal, bantu partisipan mengenal karakter dan latar belakang partisipan.
  2. Lancarkan throw away question atau grand tour question. Pastikan semua sudah mulai bicara
  3. Selalu perhatikan kondisi awal dalam setting pleno, apakah ada yang dominan? Rumusnya, bila ada sejumlah yang terlalu dominan, maka diskusi/ kerja kelompok kecil mesti lebih “distrukturkan”. Bila kebanyakan partisipan aktif dan tampak nyaman, maka diskusi/kerja kelompok kecil bisa dibuat fleksibel.

 

Bila dalam pleno terlihat sejumlah partisipan mendominasi, maka dalam kelompok-kelompok kecil fasilitator dapat “memaksakan” proses yang dapat menjamin partisipasi lebih merata seperti:

 

1.   Jelaskan dan meminta kelompok-kelompok kecil menerapkan aturan brainstorming

2.   Gunakan meta plan cards atau teknik-teknik “kontrol” partisipasi

3.   Juga bisa dengan memecah topik lalu membuat setiap partisipan menjadi champion (dalam kelompok-kelompok kecil baru)

 

Tapi rumusan ini tentu tidak baku. Masih banyak cara lain yang bisa dikembangkan. (Risang Rimbatmaja)

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 135 + 8 =

Artikel Teknik Lainnya :



Versi Mobile